SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA

DOSEN TERBANG: Di tengah kesibukan sebagai bupati, Hasto Wardoyo juga masih menyempatkan mengajar sebagai dosen. Tujuannya, semata-mata untuk transfer ilmu agar berguna untuk masyarakat banyak.

Aktif Jadi Dosen untuk Transfer Ilmu

Selain menjalani profesinya sebagai dokter, Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) juga masih intens melaksanakan tugas sebagai dosen. Tidak tanggung-tanggung, untuk mengajar ini dia harus terbang ke Jakarta. Ini dilakukan rutin dua mingu sekali.

JOKO SUHENDRO, Wates

NGOBROL satu jam lebih bersama Bupati Hasto tak ada bosannya. Juga tidak kantuk sedikit pun, meski minum teh bareng ini berlangsung tengah malam, pukul 24.00. Untuk profesinya sebagai dosen, Hasto mengaku mengajar di Jakarta. Bukan untuk main-main, apalagi sampai disebut selingan. Karena dia mengajar di Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, di mana para anak didiknya adalah orang-orang yang memperoleh beasiswa magister dan doktor.

Untuk menjalankan tugas yang ini, dia mengaku bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan satu lagi dengan seorang kepala daerah dari luar Jawa. “stilahnya mau disebut dosen monggo, tapi saya lebih menginspirasi kepada mereka saja,” katanya.

Aktivitas ini dilakukan dua minggu sekali. Dan, lagi-lagi juga diusahakan dipilih hari-hari atau waktu yang tidak padat dengan kesibukannya sebagai seorang kepala daerah.

“Tapi ini juga tugas negara, karena yang saya kasih materi ini mereka yang memperoleh beasiswa, orang-orang S2 dan S3 dari seluruh Indonesia,” katanya.

Oleh karena itu dua minggu sekali dia harus terbang ke Jakarta. Hasto tampak enjoy dengan tiga pekerjaan sekaligus ini. Sampai-sampai susah dibedakan, mana Hasto yang dokter, mana Hasto yang bupati, dan mana Hasto yang dosen. Baginya, ini bukan soal pendapatan yang dikejar, tapi lebih mendistribusikan ilmu atau kelebihannya untuk kemanfaatan orang banyak.

Sebagai seorang dokter, dia ingin menolong orang banyak yang mengalami kesulitan hidup akibat penyakit yang diderita. Tentu saja, semua akan merasa iba dan kasihan jika ada orang yang hidup harus bergulat dengan penyakit. “Apalagi saya sebagai seorang dokter. Sehingga sudah menjadi kewajiban dan tugas saya untuk tak berhenti membatu pasien,” paparnya.

Sementara dalam menjalankan tugas sebagai seorang dosen, karena dia ingin mentransfer ilmunya agar juga dinikmati orang lain. Dan, orang lain itu bisa mengimplementasikan ilmunya yang ditularkan untuk kepentingan masyarakat lebih banyak lagi.

“Harapannya, tentu ketika ilmu sudah saya transfer ke orang yang lebih banyak, ilmu itu bermanfaat bagi orang yang lebih banyak lagi, khususnya pada masyarakat umum,” tuturnya.

Dasar Hasto cerdas, dalam menjalankan profesinya sebagai dosen ini, dia juga mengambil “keuntungan”. Para anak didiknya saat praktik lapangan atau yang biasa akrab dengan sebutan KKN, diboyong ke Kulonprogo. “Ya itu salah satu manfaatnya. Mereka juga kami manfaatkan untuk ikut memikirkan Kulonprogo,” ujar Hasto.

Sedangkan sebagai bupati, Hasto memaknai sebagai panggilan jiwa yang diawali dari rasa keprihatinan. Dia ingin mengubah daerah asalnya, Kulonprogo, menjadi lebih baik. Dengan menjadi bupati, dia ingin bisa melayani atau pengabdi kepada masyarakat.

“Semacam ada panggilan saja ketika ada hingar bingar pemilihan bupati di Kulonprogo waktu itu. Kebetulan saya orang asli Kulonprogo dan saya dimintai tolong, akhirnya saya maju,” terang Hasto.

Sebelum menyatakan mau maju menjadi Bupati Kulonprogo, Hasto mengaku sudah membayangkan dan berhitung sekaligus meyakinkan keluarganya. Saat itu yang terlintas belum lama dirinya sekolah menjadi dokter, kemudian sekolah lagi menjadi spesialis, sekolah lagi menjadi konsultan.

“Saya bahkan baru menikmati pekerjaan menjadi dokter sekitar 2-3 tahun. Hingga datang pinangan itu, saya bilang sama anak istri, kalau saya jadi bupati jangan seperti kemarin. Kalau kemarin kan dokter, punya penghasilan. Kalau jadi bupati punya penghasilan, tapi ya tidak seperti dokter,” kenang Hasto.

Hasto menuturkan, sebelum memutuskan pulang ke Kulonprogo menjadi bupati, dia sempat merasakan menjadi dokter umum yang laris di Bontang, Kalimantan Timur. Di sana Hasto memilki pasien cukup banyak dan hidup seperti umumnya dokter umum yang mapan dan berkecukupan.

Sebelumnya, selama lima tahun lebih Hasto sempat melalui perjalanan karirnya menjadi dokter inpres. Dia bertugas di pedalaman menjadi dokter terapung. Wilayah tugasnya sampai ke hulu Sungai Mahakam, naik perahu terapung.

“Setelah itu baru pindah di Bontang buka praktik di sana dan laris. Hanya sekitar setahun kehidupan yang enak itu saya nikmati, dan akhirnya harus sekolah lagi menjadi dokter spesialis selama lima tahun. Saat itu, pertimbangannya ilmu lebih penting daripada harta, akhirnya berhentilah dan kembali prihatin,” kenangnya.

Tentang pengalamannya ini sudah sering diceritakan, dan terungkap lagi dalam obrolan ringan malam itu. Hasto juga sempat sekolah menjadi konsultan selama dua tahun, dan mengajar sebagai dosen.

“Kemudian menjadi bupati saya maknai begitu saja. Saya pamit sama anak-istri setelah hidup relatif kecukupan, akan balik lagi seperti zaman sekolah dulu, prihatin dengan penghasilan yang secukupnya,” ucapnya. (laz/bersambung)