BANTUL- Angin kencang dan hujan mengancam kenyamanan warga yang menghuni rumah berbahan alakadarnya. Dinding bambu atau kayu, misalnya. Bantul memiliki banyak rumah tidak layak huni (RTLH). Namun, belum semua masuk daftar calon penerima bantuan.

Kepala Dinas Sosial Suarman mengatakan, setiap tahun pemerintah selalu mengalokasikan dana untuk program rehab RTLH. Namun, keberhasilan program tersebut diklaim tergantung peran serta aparat kecamatan dan kelurahan dalam pendataan RTLH di wilayah masing-masing.

“Daftar yang akan direhab sesuai laporan,” ujar Arman, begitu sapaan akrabnya, kemarin (4/2). Dinas selalu melayangkan surat edaran kepada kecamatan dan kelurahan, sebelum membahas alokasi anggaran di APBD. Surat tersebut berisi anjuran kecamatan dan kelurahan untuk mendata warga yang tempat tinggalnya tergolong tidak layak huni. Selanjutnya, pihak kelurahan mengirim data ke kecamatan, yang diteruskan ke pemkab. Hanya rumah warga yang memenuhi kriteria program RTLH bakal memperoleh bantuan. Diantaranya, warga miskin dengan kondisi lantai tanah dengan dinding gedhek (anyaman bambu). Tahun ini, ada 147 rumah yang diajukan ke dinas.

Arman menyatakan, dari 147 warga yang masuk daftar belum tentu semuanya bakal menerima bantuan. Pemkab akan melakukan survei lapangan untuk mengecek akurasi data yang ada. “Data itu acuan kami menentukan anggaran,” tandasnya.

Arman mengakui, tak semua RTLH masuk daftar. Ada beberapa yang tercecer karena kasus tertentu. Dia mencontohkan rumah milik salah seorang warga bernama Adi Utomo,90, warga Kaligawe, Geblak, Bantul. Rumah lansia tersebut ambruk setelah diguyur hujan deras disertai angin kencang beberapa waktu lalu. Musibah itupun merenggut nyawa Adi setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara Juminem, mengalami luka di bagian kepala.

“Kecamatan dan kelurahan seharusnya rutin mengecek ke bawah,” sindirnya.

Itu hanya sebuah kasuistik yang bisa juga terjadi bagi warga lain. Itu menjadi alasan Arman tak bisa memastikan kebernaran kondisi 147 rumah calon penerima bantuan rehab rumah dari pemkab. Apalagi, data RTLH yang diterima dinas hanya berasal dari empat desa yang tersebar di Kecamatan Pleret dan Pajangan. Yakni, Sendangsari, Bawuran, Segoroyoso, dan Wonolelo.

Bantuan akan diberikan dalam bentuk uang tunai senilai Rp 10 juta per rumah. (zam/yog/ong)