Grafis-3M
SLEMAN- Ancaman virus Zika menjadi hot topic media massa selama beberapa hari ini. Itu tak lepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh virus yang ditularkan nyamuk aedes aegypti. Sebagaimana diketahui, vektor Zika ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD). Gerakan 3M plus memberantas sarang nyamuk bisa jadi langkah jitu menangkal penyebaran penyakit mematikan itu.

Dengan mengubur atau mendaur ulang barang bekas, serta menguras bak air secara rutin, dan menutup tempat penampung air. Plus menerapkan pola hidup sehat dan menghindari gigitan nyamuk. “Jadi, waspada penyebaran virus Zika sekaligus antisipasi DBD,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman Mafilindati Nuraini kemarin (4/2).

Imbauan lebih ditekankan bagi warga yang berdomisili di kawasan endemik aedes aegypti. Diantaranya, Depok, Ngaglik, Kalasan, Sleman, dan Gamping. Penyebaran DBD cenderung lebih mudah terjadi di wilayah padat penduduk.

Musim hujan berpotensi menimbulkan genangan air di berbagai tempat. Hal itu bisa berdampak meningkatnya kasus DBD. Dinas mencatat sedikitnya 51 kasus DBD terjadi sejak awal 2016. Seorang penderita meninggal dunia.

Menurut Mafilinda, jentik nyamuk aedes aegypti mampu berkembang biak meski hanya di setetes air. Karena itu, kewaspadaan warga bisa dimulai dengan sikap peduli pada lingkungan sekitar tempat tinggal. Dengan membersihkan tempat-tempat penampung air yang sering terlupakan. Misalnya, tempat minum di sangkar burung, penampung tetesan air dispenser, dan bak air di belakang kulkas. “Soal Zika masyarakat tak perlu panik. Di Sleman belum terdeteksi penularannya,” tutur perempuan berhijab itu.

Gerakan Jum’at bersih menjadi salah satu upaya pemerintah mencegah penyebaran DBD. Kegiatan tersebut berupa monitoring jentik, yang melibatkan relawan jumantik. Warga, khususnya remaja diimbau turut aktif membantu jumantik. Selain sebagai sarana edukasi, peran aktif masyarakat diperlukan guna menggugah kesadaran individu untuk menerapkan pola hidup sehat.

Peneliti Utama Eliminate Dengue Projec (EDP) DIJ Riris Andono Ahmad mengungkapkan, dampak virus Zika pada manusia tidak lebih parah dari penyakit cikungunya dan DBD. Dua penyakit tersebut menyebabkan kematian lebih besar dibanding Zika “Secara klinis memang lebih ringan. Tapi, (Zika) tetap harus diwaspadai,” ingatnya.

Riris tak menampik kemungkinan adanya risiko penularan Zika di Indonesia. Namun, sejauh ini belum ada penelitian yang fokus membahas penyakit yang berasal dari Amerika Selatan itu.(bhn/yog/ong)