JOGJA – Puluhan orang pembeli Apartemen Majestic M Icon menggeruduk kantor pemasaran Majestic Land di Wisma Hartono Lantai 5-6 Jalan Jendral Sudirman 59, Kota Jogja, kemarin (4/2). Mereka merasa tertipu. Karena setelah beberapa orang melunasi pembayaran, nyatanya apartemen yang dijanjikan tidak pernah ada.

Dengan membawa spanduk, mereka menyegel kantor tersebut. Mereka juga menagih janji kepala perusahaan atau Dirut Majestic Wisnu Tri Anggoro untuk memberikan penjelasan pada para konsumen. Diperkirakan, kerugian para konsumen mencapai ratusan miliar rupiah.

Dwi Haryanto, 40, warga Kota Jogja, salah satu konsumen Apartemen Majestic M Icon menceritakan, dirinya mengetahui adanya penawaran apartemen berawal dari ketertarikannya membaca iklan di berbagai media cetak dan elektronik. Selain juga reklame besar di tempat tempat strategis di Kota Jogja soal Apartemen M Icon dari Developer Majestic Land PT.Graha Anggoro Jaya.

“Saat itu saya berkontak telepon dengan sales marketing bernama Bintang. Ia mengenalkan M Icon Best Weatern Apartement and Condotel Kaliurang yang merupakan produk Majestic Land. Saat itu mereka memiliki proyek proyek di Jogja. Yakni Villa Wisata Kampung Jogja, Apartement M. Icon, Best Western Majestic Condotel, Majestic Banguntapan Residence, dan Apartemen Majestic Grand Bale,” kata Haryanto kepada wartawan.

Haryanto menyebut, dalam satu pertemuan di kantor Majestic Land Wisma Hartono, tercapai kesepakatan. Ia memesan 2 unit apartement di M-Icon seharga Rp 310 juta per unit.

“Saya mendapat diskon berupa rental guarantee sebesar Rp 49.632.000 per unit, sehingga saya harus membayar masing-masing sebesar Rp 260.568.000 per unit. Tanggal 27 November 2014, saya membayar booking fee Rp 10 juta untuk 2 unit apartemen,” ungkapnya.

Kemudian, Haryanto mentransfer ke rekening Bank Mandiri 137 0010846208 pada 4 Desember 2014 sebesar Rp 200 juta. Ini dilanjutkan pada 5 Desember 2014 sebesar Rp 50 juta.

“Pada 11 Desember 2014, saya menerima dua unit ponsel iPhone 5 sebagai hadiah dari transaksi tersebut. Pada tanggal itu pula, saya menandatangani perjanjian jual beli di kantor notaris Woro Sutristiassiwi Sriwahyuni disaksikan perwakilan Majestic dan notaris,” ujarnya.

Kepada Haryanto, pihak apartemen menjanjikan pada Juni 2015 akan dilakukan ground breaking. Ternyata tidak terlaksana. Saat bersamaan, ia mendengar, berkembang isu penolakan dari masyarakat di lokasi calon apartemen.

“Saya dan istri sempat beberapa kali menanyakan, dan dijawab pihak Majestic, proyek masih dalam pemrosesan untuk ground breaking. Sampai beberapa bulan terakhir, sekitar Oktober-November, kami dapati Bintang, marketing yang saat itu memproses pembelian kami ternyata sudah tidak bekerja lagi,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi pada Bintang, Haryanto mendapati, kondisi saat itu, hampir semua pegawai sudah dirumahkan. Ia diarahkan mencari informasi ke kantor marketing Majestic Banguntapan Residence yang berada di lokasi proyek.

“Saat kami datangi proyek tersebut, kami ditemui beberapa karyawan Majestic. Intinya, mereka tidak dalam posisi bisa menerangkan kondisi terakhir Majestic Land. Saya hanya dapat beberapa nomer ponsel orang yang katanya bertugas tentang masalah ini. Tetapi nomor tersebut tidak pernah bisa dihubungi,” katanya.

Saat Haryanto mendatangi kantor Majestic di Wisma Hartono pada Desember 2015, kondisinya sudah kosong. Sementara di Majestic Banguntapan Residence pun sudah tidak ada kegiatan sama sekali.

“Saya berinisiatif mendatangi kantor notaris Woro di Jalan Magelang Km 5.6 No 58c. Tetapi mereka bilang, pada saat penandatanganan hanya ketempatan, tanpa mempersiapkan naskah perjanjiannya. Semua draft adalah bikinan pihak Majestic. Pihak Woro tidak memegang apapun surat perijinan, surat tanah, dan lainnya,” keluhnya.

Selain Haryanto, ada juga Solahudin, 60, yang sehari-hari tinggal di Bontang Kalimantan Timur. Ia mengaku, membeli dua unit apartemen yang nilainya Rp 730 juta.

“Satu unit Rp 365 juta. Sudah lunas cash sejak November 2014,” kata Solahudin.

Curiga dengan tindak penipuan pihak developer, ia mengecek ke lokasi pembangunan. Ternyata tidak ada perkembangan sama sekali. Sebab di lokasi hanya ada spanduk dari penduduk setempat yang tidak setuju dibangun apartemen.

“Saya merasa tertipu janji-janjinya karena tidak ditepati, makanya kantor disegel. Saya sudah lapor ke Polda DIJ pada 20 Desember 2015. Saya menduga, banyak juga yang tertipu, bisa ratusan miliar,” cetusnya.

Salah satu keamanan Wisma Hartono, Sudarto menyebut, kantor Majestic Land sudah tidak beroperasi hampir tiga bulan terakhir. Dari pengamatan koran ini, di dalam ruangan kantor hanya ada meja resepsionis dan sofa di bagian depannya. Sementara ruangan di bagian dalam sudah kosong dari berkas-berkas.

“Sudah ndak pernah ada aktivitas. Kepala badannya tinggi besar, tapi ndak pernah kelihatan,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh, sebelumnya sekitar Agustus 2015, pernah ada aksi di kantor Majestic. Saat itu kantor digeruduk belasan orang yang diduga konsumen yang kecewa dengan pengembang tersebut.

“Badannya besar-besar, bosnya sampai takut dan dikawal bodyguard. Katanya asalnya dari Surabaya,” ujar sumber tersebut.(riz/hes/ong)

Tiga Bulan Kantor Tutup

Sementara itu, salah satu keamanan Wisma Hartono, Sudarto menyebut, kantor Majestic Land sudah tidak beroperasi hampir tiga bulan terakhir. Dari pengamatan koran ini, di dalam ruangan kantor hanya ada meja resepsionis dan sofa di bagian depannya. Sementara ruangan di bagian dalam sudah kosong dari berkas-berkas.

“Sudah ndak pernah ada aktivitas. Kepala badannya tinggi besar, tapi ndak pernah kelihatan,” katanya.

Dari informasi yang diperoleh, sebelumnya sekitar Agustus 2015, pernah ada aksi di kantor Majestic. Saat itu kantor digeruduk belasan orang yang diduga konsumen yang kecewa dengan pengembang tersebut.

“Badannya besar-besar, bosnya sampai takut dan dikawal bodyguard. Katanya asalnya dari Surabaya,” ujar sumber tersebut.(riz/hes/ong)