Kanker merupakan penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian kedua setelah penyakit jantung. Sayangnya, masyarakat di Indonesia umumnya, dan Jogjakarta pada khususnya, masih enggan untuk melakukan deteksi dini kanker. Ada banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kesadaran warga untuk periksa dini. Data dari RSUP dr Sardjito selama 2015 lalu terdapat sekitar 1.800 pasien kanker baru.
 

grafis-kanker
JOGJA – Rasa takut, masalah psikologis, dan ekonomi masih menjadi penyebab utama dalam pencegahan penyakit kanker di Indonesia. Berdasarkan hasil survei yangdilakukan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DIJ, masyarakat tidak mau melakukan deteksi dini kanker karena takut ketahuan penyakitnya.

Wakil Ketua I YKI DIJ Sunarsih Sutaryo mengatakan, pasien kanker datang ke rumah sakit ketika sudah dalam stadium lanjut. Hal itu karena masalah ekonomi, psikologis, dan spiritual. Padahal, lanjut Sunarsih, dengan deteksi dini kanker bisa diketahui sejak stadium awal. Apabila masih stadium awal, kanker masih bisa disembuhkan. Dengan catatan berobat dengan benar.

“Karena itu masyarakat jangan takut untuk melakukan deteksi dini kanker,” sarannya dalam peringatan Hari Kanker Sedunia di Mal Malioboro Jogja, kemarin (4/2).

Masyarakat yang masih takut untuk melakukan deteksi dini, jelas dia, berarti pemahaman tentang kanker belum benar. Kadang mereka yang dideteksi terkena kanker, melakukan pengobatan nonmedis. Setelah penyakitnya tidak sembuh-sembuh dan uang sudah habis baru berobat ke dokter. Sayangnya, penyakitnya sudah stadium lanjut.

“Setelah melakukan pengobatan herbal dan tidak sembuh baru mau ke dokter,” tandasnya.

Salah seorang survivor kanker Suhartini menambahkan, proses pengobatan kanker secara medis memang butuh perjuangan. Itu berdasarkan pengalamannya, terlebih dia baru mengetahui terkena kanker kolorektal yang menyerang jaringan usus besar saat sudah hampir mencapai stadium tiga.

Pada Juni 2010 silam, dia memutuskan untuk operasi dengan mengangkat 17 centimeter usus besar. “Menghindari sel kanker menyebar, terpaksa rahim dan indung telur diangkat,” tuturnya.

Di saat bersamaan, perempuan yang sehari-hari bertugas sebagai tenaga kesehatan tersebut, juga harus melakukan kemoterapi. Momen itulah yang menurutnya paling berat, apalagi dilakukan dari September 2010 hingga Maret 2011. Menurut dia, efeknya membuat sangat tidak nyaman, karena mual. Tapi semangat dari diri sendiri dan lingkungan yang membuatnya bertahan.

“Banyak yang menyemangati, itu yang membuat saya bertahan,” terangnya.

Bahkan belum 100 persen proses kemoterapi selesai, dia sudah mengikuti kegiatan fisik, bersepeda dalam peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta. Perempuan 63 tahun tersebut berbagi pesan kepada masyarakat lain. Bahwa pelajaran berharga untuk menghargai kesehatan dengan makan sehat dan olahraga.

Semangat Suhartini tersebut pula yang ingin dibagikan pada ribuan penderita kanker lainnya yang saat ini juga tengah menjalani terapi. Menurut dokter spesialis Onkologi Radiasi RSUP dr Sardjito Sri Retna Dwi Danarti, selama 2015 lalu terdapat sekitar 1.800 pasien kanker baru. Jika dibandingkan tahun sebelumnya terdapat peningkatan sekitar 200 kasus per tahun. Untuk jenis kanker, terbanyak adalah pasien kanker payudara diikuti kanker serviks. “Trennya setiap tahun meningkat,” jelasnya.

Peningkatan tersebut, jelas dia, bisa dimaknai positif dan negatif. Sisi positifnya, menandakan semakin banyak pasien yang menyadari kanker sejak stadium awal. Tapi jika dilihat dari sisi negatif, bisa diartikan masalah kesehatan terabaikan seiring perkembangan zaman.

“Bisa jadi karena gaya hidup saat ini tidak sebaik dulu, mulai dari polusi sampai makanan sebagai penyebabnya,” jelasnya.

Oleh karena itu, berbagai pihak juga terus menyuarakan kampanye pencegahan kanker. Dalam kampanye tersebut mereka membawa spanduk bertuliskan antara lain “Lakukan Deteksi Dini Kanker” dan “Dukung Pasien Kanker”. Disamping itu, puluhan peserta kampanye juga membagikan leaflet yang berisi informasi tentang kanker dan berbagai macam jenis kanker. (pra/ila/ong)