HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
RAMAH: Bupati Hasto Wardoyo dalam sebuah kesempatan bersama para PNS di lingkungan Pemkab Kulonprogo, beberapa waktu lalu.

Bagaikan Racun, Tak Suka Berada di Zona Nyaman

Bisa jadi, kebanyakan orang ingin hidup nyaman. Tapi jangan salah, kenyamanan itu bisa berubah menjadi racun yang “mematikan”. Kenapa demikian? Berikut pengalaman Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) yang diceritakan kepada Radar Jogja saat ngeteh bareng di rumah dinasnya.

JOKO SUHENDRO, Wates

SUDAH ngobrol selama satu jam lebih, Radar Jogja merasa kesulitan mencari ruang untuk pamit. Bahkan ketika pamit, masih diminta untuk menghabiskan teh terlebih dulu.

“Sabar dulu to, di luar masih hujan. Habiskan dulu tehnya, baru nanti pulang,” pinta Hasto saat Radar Jogja mencoba pamit, karena merasa sudah lama dan takut mengganggu istirahat sang bupati.

Meski obrolan kami hingga larut malam, nyaris pukul 01.00 WIB, tak membuat kami bosan apalagi mengantuk. Sangat asyik. Ada seriusnya, ada santainya, juga ada guyonannya. Tapi, semua yang disampaikan Bupati Hasto mudah dinalar dan sangat menginspirasi.

Jika saja semua kerja kerasnya, pemikirannya, dan pengalamannya diterapkan banyak orang, bisa jadi makmurlah masyarakat kini. Banyak cerita dan pengalaman positif serta menginspirasi darinya. Salah satunya soal passive income.

Bagi Hasto, dua kata asing itu penting untuk diterapkan setiap orang, agar hidupnya nyaman hingga hari tua. Atau bahkan bisa terwariskan kepada anak cucu tanpa akhir. Tentang passive income ini, Bupati Hasto mengawali ceritanya tentang kehidupan warga miskin di tempat tandus, dan kekurangan air bersih.

Diceritakan, di tempat itu nyaris semua warga pedukuhan selalu mencari air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Di antara banyak warga itu, ada dua orang yang paling sering mencari air ke pegunungan. Mereka setiap hari memikul jeriken untuk mencari air yang berada nyaris di pucuk gunung.

Karakter dua pria itu beda, yang satu tiba-tiba memunculkan ide cerdasnya. Yakni sambil mengambil air setiap harinya, dia menyempatkan untuk mencicil membuat jalan air yang diarahkan ke rumahnya. Sementara pria yang satu lagi memilih bolak-balik memikul air.

Suatu hari, si pria yang rajin bolak-balik mikuli air itu menyapa si pria yang nyicil membuat jalan atau saluran air. “Kenapa harus susah-susah bikin saluran air. Mau sampai kapan bisa kelar sampai di rumahmu. Lebih baik kita ambil saja setiap hari, selesai kebutuhan kita,” ujar Hasto menceritakan.

Tapi, karena si pria yang menggali jalan air itu punya cita-cita besar, bahwa kelak jika saluran air sudah sampai di rumahnya akan memudahkan mengambil air. Maka, dia tak mau pusing dengan olokan orang lain. Setiap hari, dia mengerjakan saluran air tersebut, seraya mengambil air untuk mencukupi kesehariannya.

Dan benar, setelah beberapa tahun, ketika si penggali saluran air itu sudah nyaris berusia 50 tahun, saluran air bisa sampai di rumahnya. Air pun bisa dialirkan ke rumahnya sesuai yang dibutuhkan.

Di hari tuanya, pria penggali saluran air tersebut bisa menikmati kerja kerasnya. Di saat dia sudah tak produktif lagi, dia tetap bisa menikmati air sebagaimana saat dia masih muda dulu. Tapi sebaliknya, pria yang awalnya tiap hari bolak-balik mengambil air dan nyemoni si penggali saluran air, masih tetap mikuli air hingga usia lanjut. Bahkan cenderung sudah tidak produktif lagi. “Inilah kisah passive income,” katanya.

Hal itu juga dilakukan Hasto. Sebagai seorang dokter, sejak dulu dia sudah bekerja keras untuk mewujudkan passive income. Saat muda, dia sengaja bersusah-susah dulu. Dia ingin mengasah profesi dokternya secara profesional.

“Dari dulu saya berpikir, bagaimana pekerjaan saya ini bisa dikerjakan orang lain, namun hasilnya tetap buat saya,” ujarnya.

Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, cita-cita itu kesampaian. Kini, dia sudah memiliki klinik di Jogja. Klinik itu bisa dijalankan orang lain, dan cenderung berkembang. “Dengan klinik ini, saya tanpa harus bekerja, bisa menikmati hasilnya. Itulah passive income,” tandasnya.

Sebagai bupati yang juga sebagai seorang dokter dan dosen, Hasto berharap, agar semua orang bisa memiliki cita-cita dan niat untuk merengkuh passive income tersebut. “Bolehlah terus bekerja keras, tapi jangan menjadi karyawan terus atau menjadi staf terus. Harus bercita-cita sebagai sebagai owner. Sehingga kehidupan ini menjadi lebih baik,” tuturnya.

Hasto mengingatkan, jadi seorang pekerja, janganlah sekali-kali merasa aman di zona nyaman. Sebab, zona nyaman itu sejatinya sama dengan racun. Dengan posisi yang dianggap nyaman, akan membuat yang bersangkutan terlena.

“Karena keenakan, bisa lupa tentang dirinya sendiri. Seharusnya kalau di tempat yang sudah nyaman, mencari yang lebih nyaman lagi,” katanya.

Yang dimaksudkan Bupati Hasto, sekali pun sudah di posisi puncak, seseorang jangan puas dengan posisi itu. Tapi sebaliknya setiap orang wajib hukumnya untuk terus berinovasi, berkreasi, dan mengejar prestasi.

“Jangan justru merasakan keenakan. Jangan mau dimanja dengan kenyamanan, jangan mau diperbudak dengan kemalasan. Jadilah orang yang selalu bermanfaat,” paparnya. (ila/habis)