GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
CAGAR BUDAYA: Wisatawan berkunjung di lorong Pulo Cemeti yang masih menjadi bagian dari kompleks Keraton Jogja, Kamis (4/2). Salah satu program keistimewaan adalah penataan Kawasan Cagar Budaya (KCB).

JOGJA – Salah satu program keistimewaan, penataan Kawasan Cagar Budaya (KCB) tak maksimal serapannya. Anggaran Rp 3 miliar hanya terserap 86,67 persen untuk fisiknya saja, sedangkan keuangan terserap Rp 71,3 persen.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Jogja Edy Muhammad mengungkapkan, ada kendala untuk pengerjaan program tersebut. Pertimbangan aspek sosial menjadi pengghambat. “Akhirnya penyelesaian fisik yang menjadi masalah,” tandas Edy, kemarin (4/2).

Dia mengungkapkan, penataan KCB ini memang sulit maksimal. Ini karena adanya tumpang tindih. Sebab, penetapan KCB selama ini berdasarkan dengan Surat Keputusan Gubernur. “Makanya, kami koordinasikan dengan Pengguna Anggaran (Pemprov DIJ),” ujarnya.

Hasil koordinasi itu, lanjut dia, beberapa program akan beralih kuasa pengguna anggaran atau pelaksananya. Jika selama ini oleh pemkot, bisa jadi tahun depan pemprov yang akan melaksanakan.

“Kalau sekarang belum tahu (masuk DIJ atau pemkot). Sebab, kami belum mendapatkan penyerahan daftar isian pelaksana anggaran (DIPA) secara formal,” terangnya.

Dijelaskan, penataan KCB ini memang banyak melibatkan pemkot. Sebab, dari lima KCB, empat di antaranya masuk Kota Jogja. Keempat KCB itu Kraton, Pakualaman, Kotabaru, dan Kotagede. Sedangkan satu KCB lagi, berada di Bantul yakni KCB Makam Imogiri.

Peneliti dari Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) Johanes Marbun menilai, apa yang sudah dilakukan saat ini untuk DIJ cukup baik. Terlebih, jika dibandingkan dengan provinsi dan kota lain.

“Kami harapkan program tersebut tidak dihapus. Tetap dijalankan. Siapa pelaksananya tidak penting,” katanya.

Paling penting dari penataan KCB ini, bisa menjadi tempat belajar bagi generasi muda. Apalagi, KCB yang ada di DIJ termasuk beragam. “Jogja memang perlu untuk mengembangkan KCB ini. Bukan hanya sebagai hunian ekslusif. Bisa ke depannya menjadi tempat wisata,” sarannya.

Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah diberi sebuah penanda seperti papan pengumuman. Isinya, menjelaskan tentang sejarah dari KCB tersebut.

“Sebenarnya sangat kaya. Bisa saja KCB itu menjadi sanggar teater, yang nantinya bisa digunakan untuk pentas dan jadi daya tarik wisatawan,” usulnya. (eri/ila/ong)