JOGJA – Selama Januari 2016, ada dua orang meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD). Namun, DIJ belum menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD. Dari data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ selama Januari lalu, ada 243 kasus DBD yang dilaporkan terjadi.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinkes DIJ Daryanto Chadorie mengatakan, dari jumlah tersebut, kasus terbanyak ditemukan di Bantul. Yaitu sebanyak 103 kasus. Disusul 57 kasus di Gunungkidul, Kota Jogja sebanyak 44 kasus, 29 kasus di Sleman, dan 10 kasus di Kulonprogo.

“Yang meninggal satu di Sleman dan satu di Kulonprogo,” papar Daryanto kemarin (5/2).

Daryanto melanjutkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pada periode Januari-Maret, selalu terjadi lonjakan kasus DBD. Tak hanya di DIJ, juga di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah 243 kasus yang terjadi selama Januari terbilang masih jauh lebih sedikit ketimbang kasus yang terjadi di daerah lain.

“Sampai Januari lalu, masih tergolong landai. Kami masih waspada selama Februari dan Maret nanti,” katanya.

Pihaknya belum akan meningkatkan satus wabah DBD sebagai KLB. Sampai kini, sudah ada tujuh provinsi yang menetapkan DBD sebagai KLB. Yaitu, Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Banten.

Sebenarnya, kewaspadaan sudah sejak November 2015. Ini dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Gubernur DIJ tentang kewaspadaan ledakan kasus demam berdarah.

Pihaknya juga menyiapkan tenaga medis dari tingkat Puskesmas untuk melakukan pemantauan dan sosialisasi di wilayah kerja masing-masing.

Pada masyarakat, Chadorie minta tindakan pencegahan DBD bisa dilakukan dengan melakukan pemantauan keberadaan jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan air. Selain itu tindakan 3M, yaitu menguras, mengubur, dan menutup tempat-tempat yang bisa menampung air juga dinilainya masih menjadi langkah preventif yang efektif.

“Penampungan air tidak hanya yang kotor, tapi juga yang bersih,” pesannya.

Terpisah, Direktur Utama RSUP dr Sardjito Muhammad Syafak Hanung mengakui, RSUP dr Sardjito juga ada pasien DBD yang masuk. Namun, ia tidak hafal jumlah pasti kasus DBD. Sejauh ini, ia memastikan RSUP dr Sardjito sudah memberikan pelayanan maksimal untuk menghindari korban sampai meninggal.

“Sardjito menangani beberapa pasien dan Alhamdulillah, tidak ada yang meninggal,” katanya.(pra/hes/ong)