Minuman keras jenis oplosan lagi-lagi kembali menelan korban jiawa. Tidak tanggung-tannggung, sebanyak 13 orang di Jogjakarta dipastikan meninggal karena menenggak minuman memabukkan itu. Mereka pesta oplosan di tempat dan waktu yang berbeda.
Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengatakan, mereka meminum miras oplosan di asrama mahasiswa di Asrama Pulodadi Babarsari dan Asrama Kamasan Kota Jogja. Mereka diketahui membeli minuman keras itu di wilayah Kabupaten Sleman.

“Sementara jumlahnya ada 13 orang. Ada kemungkinan bisa bertambah lagi karena masih ada yang kritis. Mereka minum di dua tempat itu antara tanggal 2-4 Februari,” ujar Yulianto kepada wartawan kemarin (5/2).

Pihaknya juga mengatakan sebelum meninggal para korban ini sempat dirawat di rumah sakit. Menurutnya, saat ini masih ada beberapa orang yang masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Jogjakarta.

Informasi yang diterimanya, para korban pesta miras itu ada yang masih kuliah dan sebagian sudah bekerja. Mereka mabuk setelah mencampur minuman keras dengan alkohol murni 96 persen dan air.

“Para korban tersebar di RS Sardjito, PKU Muhammadiyah Kota Jogja, RS Hidayatullah, dan PKU Gamping. Mereka ada dari Jogja, Medan, Bengkulu, Maluku, Papua dan Medan. Ada yang kuliah, dan ada yang sudah kerja,” ungkapnya.

Pihaknya saat ini masih menyelidiki kasus tersebut, termasuk menelusuri tempat pembelian miras dan siapa saja yang terlibat dalam kasus ini. Ia kesulitan mendapat informasi karena korban masih dalam kondisi kritis. “Ya, bagaimana mau ditanya, wong mereka dalam kondisi kritis. Sementara korban lain meninggal,” tambahnya.

Sementata itu Kapolres Bantul AKBP Dadiyo mengaku ia mendapat informasi ada dua orang yang berdomisili di Bantul masuk dalam jumlah korban sebanyak 13 orang itu. Korban berasal dari Ternate dan Medan.

Mereka menggelar pesta miras di Senopakis, Kasihan, Bantul. “Ada lima orang, yang dua meninggal. Mereka mahasiswa, minum-minumnya di kos-kosan daerah sonopakis,” ujarnya.

Sementara itu, dari informasi yang dihimpun menyebutkan, di Kota Jogja korban tewas yang sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Kota Jogja, antara lain, NB, 19 dan MR, 23 warga Kota Jogja. Korban yang sempat dirawat di RS Hidayatullah BP, 21, warga Bengkulu; MH, 20 dan AW, 19 warga luar Jogjakarta.

Warga yang meninggal di RS Bethesda yakni YT, 22, warga luar daerah, sedangkan di RSUD Wirosaban ada SW, 51; ES, 32 dan AN, 26 ketiganya warga Kota Jogja. Sedangkan TT, 23, warga luar daerah meninggal di RS Condongcatur. Seorang lagi, SD, 38, warga Bantul, tewas setelah dirawat di RSPAU Hardjolukito, Bantul.

Adapun korban yang masih hidup namun perlu perawatan intensif ada enam orang di RS Hidayatullah dan RS Bethesda. Mereka dalam kondisi kritis dan belum dapat dimintai keterangan.

Kasat Reskrim Polresta Jogjakarta Kompol Heru Muslimin mengungkapkan, pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus ini. Pihaknya mengakui, data yang diterimanya masih simpang siur karena kejadian berada di tiga wilayah hukum berbeda.

“Kami masih kroscek jumlah korban pastinya ada berapa. Baik yang tewas dan kritis di rumah sakit. Karena sampai saat ini masih simpang siur dan terjadi di tiga wilayah hukum yang berbeda,” ujarnya saat dihubungi tadi malam. (riz/laz)