SLEMAN- Sedikitnya 289 kepala keluarga (KK) yang berdomisili di wilayah Kecamatan Prambanan masuk dalam zona rawan longsor. Terutama warga yang tinggal di kawasan perbukitan. Zona tersebut tersebar di enam desa, yakni Gayamharjo, Wukirharjo, Sambirejo, Madurejo , Bokoharjo, dan Sumberharjo. Tiga desa disebut paling awal merupakan kawasan paling rawan terdampak longsor.

Camat Prambanan Abu Bakar mewanti-wanti warganya agar selalu waspada menghadapi bencana. Kewaspadaan diri bukan hanya saat terjadi hujan lebat. Sebab, tekstur tanah perbukitan sangat labil. Apalagi setelah diguyur hujan. Tanah longsor bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa diprediksi.

“Masalah itu sudah sering kami sampaikan kepada warga,” ujarnya kemarin (5/2).

Menurut Abu Bakar, beberapa titik paling rawan telah dipasang alat early warning system (EWS). Saat terjadi tanah longsor alat tersebut akan mengeluarkan sinyal suara sebagai peringatan. Semua warga harus paham dan selalu memperhatikan sinyal tersebut. Kapan saja muncul tanda dari EWS, warga harus siap mengungsi ke tempat aman. Ilmu mitigasi bencana yang dipelajari warga akan berguna.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman berencana memasang talud di titik-titik rawan. Hal itu guna mengurangi risiko longsor. BPBD mengalokasikan dana stimulant Rp 30 juta untuk keperluan tersebut.

Talud menggunakan susunan batu kali yang direkatkan secara bersaf-saf. Dan disesuaikan dengan tinggi dan kemiringan tebing. “Ada empat lokasi prioritas,” kata Kasi Mitigasi Bencana Joko Lelono.

Area prioritas pemasangan talud antara lain di Dusun Tirto, Gayamharjo, Dusun Losari 1 dan Losari 2, Wukirharjo, serta Dawangsari, Sambirejo. “Proses pembangunannya secara swadaya masyarakat,” jelasnya.

Joko mengatakan, keterlibatan masyarakat untuk menumbuhkan rasa kepedulian, sekaligus bentuk edukasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Ancaman bencana alam juga mengintai warga yang tinggal di sepanjang bibir sungai berhulu puncak Gunung Merapi. Intensitas hujan yang tinggi berpotensi mengakibatkan lahar hujan. Material vulkanik sisa erupsi 2010 di puncak Merapi menjadi ancaman serius warga bantaran sungai. Diantaranya, Kali Gendol, Kali Boyong, Kali Opak, Kali Kuning, dan Kali Krasak.

Satu hal yang harus diingat justru saat area puncak gunung paling aktif di Indonesia itu diguyur hujan. Material vulkanik bisa meluncur ke alirasn sungai meski wilayah hilir tidak hujan. (bhn/yog/ong)