Rizal SN/Radar Jogja

Dua Minggu Diperkenalkan Sudah Punya Belasan “Pelanggan”

Warung makan gratis untuk mereka yang mau menyetorkan atau membaca Alquran dua juz, ternyata tidak hanya ada di Bandung. Di Sleman ada juga warung serupa. Bedanya, jika di Kota Kembang berupa warteg keliling dengan mobil, di Sleman warungnya manggrok alias permanen.

RIZAL SN, Sleman
Jika dilihat dari luar, sekilas tidak ada yang aneh dan unik dari warung makan di Jalan Gito Gati, Kamdanen, Ngaglik, Sleman, itu. Hanya ada papan bertuliskan Warung Makan Tegalan Ndeso, Masakan Nusantara Mbah Mbayat. Namun apabila telah masuk ke dalam, ada hal yang tidak biasa ditemui di warung makan pada umumnya.

Jaka Sarwanta, 51, baru selesai makan saat Radar Jogja menemuinya Jumat (5/2) kemarin. Dengan ramah, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat itu menyilakan tamunya.

“Saya ndak bisa berdakwah, karena profesi saya sebenarnya pengacara. Harapan saya dengan membuka warung ini, selain saya dapat bersedekah, juga bagaimana masyarakat bisa gemar baca Alquran,” ujarnya, menjelaskan konsep warungnya itu.

Ya, di warung miliknya itu pengunjung bisa makan berikut menu yang dijajakan dengan gratis alias tanpa membayar sepeser pun. Hanya saja syaratnya, mereka diwajibkan menyetorkan bacaan Alquran sebanyak dua juz dan membacakan 10 hadis nabi. Belakangan, untuk syarat kedua itu dia masih bisa member tolernasi. Bacaan tersebut akan diawasi oleh manajer warungnya, Mardha Nova, 50.

“Bukan cari sensasi, tapi memang murni agar dapat berbagi. Kenapa harus membaca Alquran? Karena banyak orang mengatasnamakan agama tapi melakukan pengeboman. Itu karena tidak paham Quran dan hadis. Padahal, tidak ada itu ayat dan hadis yang menghalalkan ngebom,” jelasnya.

Bapak tiga anak itu berkeyakinan, meskipun menggratiskan jualannya ia tidak akan mengalami kerugian apabila berniaga dengan niat karena Allah. Bahkan akan diganti yang lebih baik.

“Siapa saja boleh datang ke sini. Tidak dibatasi, siapa pun. Kalau tidak setor bacaan, membeli biasa juga silakan. Saya niatkan mau mencari berkah. Bagi yang membaca, juga pastinya dapat barokah dan manfaat,” ungkapnya.

Jaka mengungkapkan, warung makan miliknya itu adalah yang ketiga kalinya. Sebelumnya ia pernah membuka warung di dekat pabrik rokok di Klaten. Pelanggannya mencapai ribuan. Namun karena terbentur jarak dan kesibukkannya, ia memilih berkonsentrasi di Jogja.

Kedua ia membuka di sekitar Ambarukmo Plaza, dan yang ketiga di Jalan Gito Gati, Sleman, ini. Warung terakhir baru beroperasi selama tiga bulan, dan program makan gratis itu sudah berjalan selama dua minggu terakhir. “Sudah banyak yang datang dan setor bacaan, Alhamdulillah. Ada belasan orang, kebanyakan mahasiswa dan anak kos memang,” tuturnya.

Ditanya kenapa harus membaca dua juz Alquran, ia mengatakan ada makna di dalamnya. Menurut alumni Fakultas Tarbiyah UII ini, segala sesuatunya memiliki pasangannya dan berjumlah dua.

“Manusia berpasangan, ada sakit ada sehat, ada hidup ada mati, ada lahir ada batin dan lainnya. Saya ingin mensyiarkan ini tapi saya tidak bisa pidato dan ceramah. Ya ini media saya,” cetusnya. Mengenai 10 hadis, bermakna antara isi dan kosong, antara jasmani dan rohani.

Di luar kesibukannya sebagai advokat, Jaka ternyata masih sempat memasak menyiapkan bumbu-bumbu untuk menu warungnya. Ia mengaku terbiasa memasak karena sejak kecil biasa membantu ibunya berjualan.

“Dari dulu ibu menyekolahkan saya dari usaha warung, biasa melayani untuk mahasiswa di Jogja. Buka di Perum Polri Gowok. Saya jadi biasa masak sendiri, termasuk untuk warung ini dari pukul 06.00 sudah mulai memasak,” jelas pria asli Bayat, Klaten, itu.

Warung miliknya saat ini dibantu empat karyawan. Menunya ada sekitar 15-an, antara lain, oseng-oseng kikil, sayur lodeh, sambel terasi, oseng, kangkung, sop, dan oseng bakmi lombok ijo. Menu terakhir itu termasuk yang menjadi favorit pembeli. Ia membuka warungnya pukul 09.00 sampai sekitar Isya.

Meskipun menggratiskan jualannya, ia mengaku masih bisa mengantongi keuntungan. Namun menurutnya, yang menjadi tujuannya adalah mencari berkah dan ridho Allah. “Saya tidak semata-mata cari untung. Kalau jadi pengacara sudah cukup,” katanya
Namun demikian, lanjutnya, tetap tidak akan rugi kalau berniaga dengan Allah. Pasti dimakmurkan lewat jalan lain. Harapannya tetap sukses dunia dan sukses akhirat. “Toh sekenyangnya makan tidak lebih dari sepiring. Dia makan jadi ibadah,” ujar pengajar di SMK Muhammadiyah Kentungan dari tahun 1995 hingga 2002 ini. (laz/ong)