Adi Daya Perdana/Radar Jogja

AUS BIDANG: Jumlah batu pijakan di Candi Borobudur ada 2.033 yang tersebar di empat titik. Dari angka itu, 1.028 batu pijakan di antaranya mengalami aus bidang karena gesekan dengan alas kaki pengunjung.

MUNGKID – Balai Konservasi Borobudur (BKB) terus berupaya agar Candi Borobudur tidak mengalami aus. Upaya ini dilakukan karena candi Buddha terbesar di dunia itu setiap tahun mengalami keausan bidang.

BKB mencatat 1.028 batu pijak lantai tangga candi mengalami aus bidang. Hal itu dikarenakan banyaknya wisatawan yang berkunjung hingga memberikan dampak buruk bagi lantai tangga candi tersebut.

Data yang dimiliki BKB menyebutkan, jumlah batu pijakan secara keseluruhan ada 2.033 yang tersebar di empat titik. Yakni, sisi barat, timur, selatan dan utara. Sementara untuk jumlah keausan batu pijak terdapat 1.028 aus bidang. Persentase keausan lantai itu mencapai 49,15.

Sementara berdasarkan penelitian tahun 2008 lalu, laju keausan bagian tangga naik mencapai 0,175 sentimeter per tahun. Sementara laku keausan pada tangga turun mencapai 0,2 sentimeter per tahun. Angka ini jauh di atas laju keausan bagian lantai, yang hanya mencapai 0,042 sentimeter per tahun.

Kepala Seksi Layanan Konservasi BKB Iskandar M Siregar mengatakan, untuk sisi timur dan utara, pihaknya menggunakan kayu sebagai pelapis anak tangga. Pemakaian bahan kayu dan karet sebagai pelapisan tangga candi, diputuskan setelah pihaknya melakukan serangkaian observasi dan pembahasan bersama para pakar.

Pelapisan tangga ini menjadi hal yang penting untuk mengendalikan tingkat keausan tangga candi. Untuk kebutuhan pelapisan tangga telah dianggarkan dana Rp 570 juta. Jenis kayu yang dipakai untuk melapisi adalah kayu jati.

“Sebelumnya, pelapisan menggunakan kayu itu telah diujicobakan di Candi Borobudur selama satu tahun,” katanya.

Selain kayu, bahan karet sebagai pelapis batuan candi ini juga akan dipasang pada 38 anak tangga di sisi barat candi.

Bahan karet yang dipakai adalah bahan impor khusus dari Jerman. Bahan ini jenis karet yang biasa dipakai di lintasan lari. Karet ini sudah melalui uji laboratorium dan akan dipakai tiga sampai 5 tahun ke depan. “Sehingga anak tangga candi tidak aus,” katanya. (ady/laz/ong)