DOKUMEN PRIBADI
BERANJAK REMAJA: Ena Vadaq dan buah hati. Dia membuat kesepakatan dengan anak-anaknya agar pacaran saat sudah masuk masa kuliah.

MENJADI orang tua akan selalu bangga melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang. Tetapi, rasa khawatir akan selalu menghantui, apalagi saat mereka sudah memasuki usia puber. Masa transisi di mana si anak sudah tidak lagi anak-anak, tapi masih belum bisa dianggap dewasa.

Apalagi saat masuk perkara cinta-cintaan. Tak dipungkiri, tidak ada orang tua yang acuh tak acuh begitu saja, bahkan rasa khawatirnya bisa begitu berlebih. Inilah yang juga dirasakan Ena Vadaq. “Khawatir tingkat dewa, aku termasuk orang yang protektif,” ujar ibu tiga anak ini.

Dua dari tiga anaknya, Mahda Rayhana, 15, dan Muna Mahira, 12, kini ada memasuki masa puber atau anak baru gede (ABG). Rasa khawatirnya, menjadi berkali-kali lipat. Usia anak yang tidak terpaut jauh membuat Ena harus ekstra perhatian pada ketiga anaknya.

“Bukan hanya kepada dua anak cewek saya saja, tapi juga kepada si sulung Mahdy Reza yang kini sudah menginjak usia 18 tahun,” ungkapnya.

Baginya, anak cowok maupun cewek sama saja, mereka harus benar-benar diberi ekstra perhatian dan banyak diberi wawasan. “Aku coba pakai metode layang-layang, tarik ulur. Karena zaman sekarang makin kita protektif, anak-anak akan semakin penasaran dan ujung-ujungnya membangkang,” ujar perempuan kelahiran 29 Agustus 1975 ini.

Memposisikan anak sebagai teman juga jadi pilihan bijak yang diterapkan Ena pada anak-anaknya. Sehingga antara dia dan anak tidak ada tembok pemisah. Namun, tetap tegas. Termasuk larangannya untuk tidak memberikan lampu hijau bagi anak-anaknya untuk berpacaran.

Untuk bab yang satu ini, Ena memang tidak ingin kecolongan, apalagi untuk anak-anak ceweknya. Menurutnya, anak-anaknya kelak juga akan mendapat restu darinya ketika mereka sudah berkuliah. “Ketika mereka berada diusia yang cukup dengan pemikiran yang matang,” ujarnya.

Meski sempat ada penolakan dari dua putrinya, namun berkali-kali dia memberikan gambaran. Memberikan sisi positif dan negatifnya, untung dan ruginya. “Saya cari tahu lewat guru, pergaulan mereka di sekolah seperti apa, saya juga pantau lewat media sosialnya,” ujarnya.

Ena, mengungkapkan, awalnya memang mereka password, tapi dengan pendekatan yang nyaman, akhirnya sang anak jadi terbuka dan mau sharing dengannya. Sempat salah satu putrinya tidak setuju pada keputusannya melarang pacaran. Namun seraya bercanda, Ena memberikan contoh orang-orang yang karena pacaran tidak sehat jalan hidupnya jadi tidak sesuai dengan cita-cita.

“Sambil bercanda saya bilang, nanti teman-teman kalian jadi presiden, jadi menteri, jadi profesor, jadi orang hebat, sementara kalian sibuk gendong anak. Mau seperti itu. Akhirnya mereka bisa mengerti keputusan yang saya ambil,” ujarnya. (dya/ila/ong)