Psikolog Yustisia Anugrah Septiani

Orang Tua Harus Bisa Jadi Sahabat bagi Anak

Rasa cinta pada lawan jenis mulai muncul ketika anak mulai beranjak remaja. Di fase ini anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, termasuk dalam fase pencarian jati diri. Nah, di masa-masa ini terkadang orang tua merasa khawatir dengan kondisi anak-anaknya.

RASA khawatir para orang tua ketika anak mengenal percintaan tentunya wajar. Terkadang orang tua tak selalu bisa mengawasi anak, termasuk dalam hal pergaulan dan percintaan. Hingga akhirnya lahirlah rasa tidak percaya kepada anak, sampai protektif yang berlebihan.

Psikolog Yustisia Anugrah Septiani mengatakan, fase remaja atau anak baru gede (ABG) adalah salah satu fase penting untuk menentukan konsep diri seseorang selanjutnya. Mengenal cinta itu masuk dalam fase remaja.

Pada fase ini sangat diperlukan arahan, pengawasan, kesepakatan, dan belajar tanggung jawab dari orang tua. “Dampaknya jika saat fase remaja tidak mendapat bimbingan yang tepat, maka akan mengalami kebingungan identitas,” katanya saat ditemui Jumat (5/2) lalu.

Yusti, sapaannya, mengungkapkan rasa khawatir orang tua terhadap anak pada fase ini cenderung meningkat. Namun, orang tua diharapkan bisa tetap tenang, terutama saat anak coba untuk mengenal percintaan. Mendampingi dan mengajak bicara merupakan salah satu kunci.

Terkadang orang tua langsung melarang segala tindakan anak. Padahal dalam fase ini, orang tua harus terbuka dalam mendampingi. Sebab, fase remaja membuat rasa penasaran pada anak tinggi. Hingga jika tidak menemukan jawaban dari rumah, maka sasaran selanjutnya adalah lingkungan bermainnya.

Menurutnya, melarang justru membuat anak menjadi menjauh dan merasa tidak dimengerti oleh orang tuanya. “Jika sudah begini, biasanya anak akan mencari support dari teman sebayanya, yang belum tahu pasti apakah membawa dampak baik atau buruk kepada anak,” jelas psikolog kelahiran Jogjakarta, 25 September 1990 ini.

Langkah selanjutnya adalah menjadi sahabat bagi anak untuk bercerita. Terutama persepi yang matang terkait masalah percintaan. Memberi informasi akan pubertas dan pendidikan seks dini bukan lagi hal yang tabu.

Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk cerdas mencari dan memberikan informasi. Terakhir adalah bangun komunikasi yang sehat dan keterbukaan kepada anak. “Mereka pun berhak mengetahui apa yang pernah terjadi pada orang tuanya saat menghadapi situasi yang sama dengan diri mereka,” ungkapnya.

Media, menurutnya, memegang peran penting dalam fase ABG. Terpaan media membuat anak menyaksikan tontonan yang belum cocok bagi usianya. Adanya kasus dan fenomena akibat percintaan pada anak-anak bisa berawal dari lingkungan yang tidak sehat.

Fenomena tingkah laku ini dilakoni bukan berdasarkan kebutuhan dalam diri. Yusti menganggap perilaku-perilaku menyimpang karena anak belum mengetahui maknanya. Cenderung melihat sebagai permainan, yang diperoleh dari konten video porno atau perilaku mencontoh orang tuanya.

Dijelaskan, pada anak memang ada kasus pubertas akibat makanan yang dikonsumsinya. Dalam perspektif psikososial disebut dengan pubertas dini. “Sedangkan untuk kasus penyimpangan bukan berarti pubertas dini, bisa saja tekanan dari lingkungan,” ujarnya.

Mengenai ini, tentunya orang tua wajib menjadi contoh yang baik. Terlebih anak cenderung memiliki sifat meniru dari lingkungan. Selanjutnya, kenalkan percintaan yang sehat. Terutama makna cinta secara general dan tahapannya.

Yusti mengungkapkan, anak mengenal percintaan tentunya tidak masalah. Asal orang tua mau menemani mereka terus. “Tetap tenang dan jangan bersikap berlebihan yang membuat anak lari. Karena anak kadang belum mengenal sebab akibat dan risiko,” pungkasnya. (dwi/ila/ong)