DWI AGUS/Radar Jogja/Dokumentasi

JOGJA – Industri perfilman di Indonesia, termasuk Jogjakarta terus menggeliat. Geliat itu ditunjukkan dengan torehan prestasi. Tidak hanya di tingkat naisonal, film-film produksi Indonesia bahkan mampu menjuarai beberapa festival tingkat internasional. Salah satu film itu adalah SITI. Film yang disutradari Eddie Cahyono ini sukses mencuri perhatian publik.

Eddie menilai, Jogjakarta memiliki potensi sinema yang luar biasa. Mulai dari lokasi syuting, pemain hingga tim produksi di belakangnya. Sehingga wajar saja beberapa tahun ini Jogjakarta menjadi kota labuhan para sineas nasional. Bahkan internasional.

“Saya selalu memang prinsip jangan takut mencoba, jangan takut bikin film, jangan takut salah dan jangan menyerah. Saya yakin Jogjakarta memiliki potensi yang besar. Dengan catatan bersabar menghadapi proses dan percaya pasti suatu saat ada waktunya,” kata Eddie.

Penjelasan Eddie cukup beralasan. Sebab, Eddie pun juga berangkat dari titik nol. Bahkan keaktifannya dalam dunia sinema sudah dilakoni sejak 1997. Dia mengawalinya sebagai figuran, hingga memunculkan ketertarikannya untuk membuat film pendek.

Eddie bahkan selalu teringat pesan yang disampaikan salah seorang promotor film SITI. Eddie akhirnya bisa berada dalam berbagai ajang film internasional berkat filmnya. Totalitas dalam penggarapan mulai dari konsep, pra hingga pasca produksi untuk menghadirkan film yang berkualitas.

“Saat saya mengucapkan terima kasih.Dia bilang berkat SITI saya bisa ke beragam festival. Kualitas film yang bagus akan membuat diri kita dicari. Bahkan orang tidak memandang siapa di balik film tersebut jika benar-benar berkualitas,” jelasnya.

Bagi Eddie film sudah menjadi bagian dari hidupnya. Hal ini pula yang perlu ditanamkan para sineas dalam menekuni dunia film. Bersabar menjalani proses tidak hanya mengejar hasil akhir. Award baginya merupakan sebuah penghargaan atas sebuah proses dan pencapaian.

Award atau penghargaan bagi Eddie adalah fase pencapaian. Sineas ini justru menganggap penghargaan sudah didapat ketika dirinya memulai menggarap sebuah film. Salah satu impian yang tetap dipegang teguh hingga saat ini adalah film sebagai sumber gizi manusia.

Ikut dalam sebuah festival bukan berarti mengincar gelar juara. Menurutnya adanya festival adalah sebagai wadah bagi film-film nonkomersil. Sama halnya ketika seseorang butuh film komedi untuk hiburan, atau film horror ketika butuh rasa takut.

“Ibaratkan makanan, film harus menyajikan bahan baku yang bergizi untuk dikonsumsi. Semua orang bisa membuat filmnya sendiri. Bisa berkaca pada kehidupan lalu dirangkum dalam sebuah film. Atau konsep lainnya. Yang terpenting adalah terus bermimpi. Dan selanjutnya mewujudkannya,” tegasnya. (dwi/din/ong)