Pion : Terus melangkah maju bagai sebuah bidak, menjadi filosofi hidup Hanifa Prabaningrum setelah gagal dalam seleksi PON 2016

Belum Lolos PON, Incar Medali O2SN Tingkat SMA

Olahraga asah otak ini sudah jadi bagian hidup RR Hanifa Prabaningrum. Meski belum berhasil lolos ke PON 2016 bersama tim beregu putri DIJ, Hanifa menatap Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional (O2SN) Tingkat SMA untuk merebut medali.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja

Masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar (SD) waktu pertama kali Hanifa menyadari dirinya bisa bermain catur. Bahkan, pertama kali memainkan bidak di papan kotak hitam putih, Hanifa langsung membuat skakmat sang ayah. Mengetahui bakatnya, kedua orangtuanya langsung mengikutkan les catur. Bergabung dengan Benteng Mataram yang mengasahnya secara privat, Hanifa pun mulai mengikuti kejuaraan.

“Banyak filosofi yang bisa diambil dari catur, aku juga bisa mengasah otak,” kata atlet catur yang kini berusia 17 tahun.

Berbagai kejuaraan catur silih berganti diikuti oleh siswi kelas XI SMA N 1 Jogjakarta ini. Tak terkecuali Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2015 dimana dirinya dipercaya mewakili Kabupaten Sleman untuk ikut berlaga di cabang olahraga catur. Di ajang multi even terbesar di Jogjakarta tersebut, Hanifa membuktikan diri dengan meraih medali emas pada nomor beregu standar 90 menit, dan medali perak untuk tim beregu kilat 10 menit.

Berkat torehan prestasinya tersebut, Hanifa pun dipanggil untuk memperkuat tim catur putri di ajang Pra PON. Namun, Tim Putri DIJ yang hanya mampu berada di peringkat 13 nasional.

“Ada sih rasa kecewa, karena waktu itu sudah ninggalin sekolah juga. Tapi ya harus berlapang dada, karena didepan ada kejuaraan yang aku harus fokus hadapi,” ungkap atlet yang juga aktif berteater di sekolahnya ini.

Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional (O2SN) tingkat SMA kini ada dihadapannya. Tekadnya satu, yakni meraih medali emas. Pada O2SN di tingkat SMP,Hanifa sudah berhasil meraih juara. Keinginan kembali menjadi juara akan dikejarnya di O2SN tahun ini.

Terus melangkah maju bagaikan sebuah pion, menjadi filosofi hidup yang diambilnya dari permainan catur. Terlebih, kedua orangtuanya sangat mendukung dirinya untuk terus berprestasi di catur. Meski pendidikan tetap menjadi hal utama bagi anak pasangan Sardiyono dan Tri Sustiani ini.

“Ibu selalu bilang kalau catur itu jadi pendamping sekolah, jadi tetap harus imbang. Mereka dukung terus, meski Ibu tidak pernah liat aku bertanding, karena pasti selalu deg-degan,” tandasnya.(dem)