SLEMAN – Tidak berhenti di angka 25, jumlah korban tewas akibat menenggak miras oplosan di Jogjakarta kembali bertambah. Sampai Senin (8/2) kemarin, korban meninggal mencapai 26 orang. Guna memastikan kandungan miras maut tersebut, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi peracikan di Kampung Ambarrukmo, Depok dan Seyegan, Sleman.

Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengungkapkan, data terakhir sampai Senin kemarin dipastikan ada 26 orang meregang nyawa setelah menenggak miras oplosan. Dia mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap beberapa saksi korban yang ada di RS Sardjito, diketahui sebelumnya mereka bersama-sama dengan korban lainnya berkumpul untuk meminum miras yang dibeli dari pelaku Sasongko yang dibantu istrinya Sori Badriyah warga Ambarrukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Selanjutnya, pada Selasa (9/2) ini kepolisian akan mengunjungi BPOM untuk mengetahui hasil pemeriksaan sampel minuman yang dikirimkan beberapa waktu lalu. Selain itu, polisi juga mengambil sampel darah, urine, dan muntahan milik korban untuk dikirim ke laboratorium forensik Semarang, Sabtu (6/2).

“Kita minta kalau bisa dipercepat, agar segera tahu kandungan dan penyebab tewasnya banyak orang itu apa,” ujarnya.

Selain itu, pihak kepolisian juga melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti yang ada di Kampung Ambarrukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman, Minggu (7/2). Dari olah TKP tersebut diamankan satu galon fermentasi salak, bahan baku miras lainnya, anti serangga cair di ruang peracikan, alat pres botol, dan cairan anti pegal. Ada pula bubuk warna putih yang masih belum dapat diidentifikasi, satu bungkus tawas, dua botol sisa minuman. Serta dua buah gelas berisi cairan cokelat yang masih belum dapat diidentifikasi jenisnya, serta satu bungkus besar tembakau.

Sampai dengan saat ini, dari hasil pemeriksaan polisi, ada dua pasang penjual miras yang diduga menyebabkan belasan orang tewas. TKP pertama petugas memeriksa Mur, 35 dan Pri, 39 warga Seyegan. Bersama keduanya disita barang bukti 33 botol miras.

Sementara TKP berikutnya berada di Kampung Ambarrukmo. Dari tempat itu, petugas memeriksa Sasongko, 45 dan pasangannya Sori Badriyah yang merupakan peracik miras oplosan. Satu lagi yang diperiksa petugas adalah Warjono, 39 warga Margoluwih, Seyegan yang biasa didatangi Mur untuk membeli miras jenis ciu atau biasa juga disebut sari vodka.

Pemeriksaan itu dipimpin langsung Kapolsek Seyegan AKP Ngadiran. Polisi melakukan penggeledahan dimulai dari bagian belakang rumah. Lalu menyeluruh ke sudut ruangan. Namun, polisi hanya menemukan dua botol bekas wadah minuman keras bermerek.

Polisi kemudian melanjutkan penggeledahan di bagian dalam rumah dan pekarangan. Hanya, pemeriksaan di pekarangan rumah belum mendapat hasil yang signifikan. Pihaknya mengatakan, sampai saat ini ketiga orang yang diperiksa belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Mur biasa membeli dari War dengan per botolnya antara Rp 15 ribu dan dijual lagi antara Rp 25 ribu. Mur mengaku tidak mencampur miras botolan air mineral tersebut dengan bahan apapun. Biasanya membeli dari War sekitar 30 botol,” katanya.

Sementara War diketahui membeli dari seseorang yang biasa ditemui di Pasar Demangan Kota Jogja. Sekali transaksi disebutkan bisa sampai 3 karton, dengan isi 25 botol per kartonnya. “Pagi-pagi jam 4 bersama pedagang pasar lain, seperti kamuflase. Tapi War tak tahu pemasoknya itu siapa, kalau butuh baru menghubungi dan belum mesti ada tergantung stoknya,” jelasnya.

Sementara itu, Sosiolog Kriminal UGM Suprapto mengatakan, fenomena banyaknya orang tewas akibat miras bukan persoalan kultur yang lazim ada di DIJ. Hal itu mengingat mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam, yang tentu saja diharamkan meminum arak.

Dia berpendapat, kejadian maraknya miras yang berujung tewasnya puluhan orang itu akibat kultur masyarakat luar daerah yang kemudian masih dibawa ke DIJ. Hal itu ditambah parah dengan kemunculan para penjual miras oplosan.

“Memang sejumlah daerah di Indonesia masih memiliki perilaku minum miras. Itu sudah menjadi budaya di tempat itu dan sulit diatasi. Tapi DIJ tidak ada kebiasaan itu,” kata Suprapto kepada wartawan, kemarin (8/2).

Suprapto menuturkan, perlu adanya penelusuran siapa saja yang meninggal akibat miras oplosan itu untuk membuktikan itu. Dari data itu, polisi memastikan sebanyak 16 korban merupakan warga luar, sementara 10 korban lainnya merupakan asal Jogja.

Melihat data tersebut, menurutnya, menjadi pendukung bahwa budaya minum dari masyarakat luar daerah masih terbawa ke Jogja. Tanpa bermaksud menyalahkan pendatang, Suprapto menyoroti lemahnya kontrol sosial yang mengakibatkan kemunculan penjual miras oplosan.

“Banyak masyarakat yang tidak peduli dengan lingkungannya. Mereka melakukan pembiaran meskipun tahu ada lingkungan masyarakatnya berjualan miras,” ujarnya.

Disamping itu, dia menambahkan, kepedulian anggota keluarga juga semakin berkurang. Hal tersebut berimbas pada terputusnya koneksi dengan aparat yang semestinya memberikan perlindungan. “Masyarakat dan anggota keluarga harus terkoneksi. Jika ada info penjual miras, harus segera dialporkan,” katanya. (riz/ila/ong)