JOGJA – Di saat Pemkot Jogja masih kesulitan sosialisasi terhadap para juru parkir (jukir) di sisi timur Malioboro, Pemprov DIJ sudah menyiapkan rencana penataan selanjutnya. Di antaranya terkait pengelolaan Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dan mengembalikan fasad bangunan di Malioboro.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Rani Sjamsinarsi mengatakan, berdasarkan kesepakatan, Pemkot Jogja bertugas melakukan sosialisasi ke masyarakat. “Tahun ini diharapkan parkir (sisi timur Malioboro) pindah. Sehingga trotoar sudah diisi street furniture,” terang Rani kemarin (8/2).

Terkait dengan rencana pemindahan jukir dari sisi timur Malioboro ke taman parkir ABA, Rani mengaku sudah melakukan koordinasi dengan sekprov DIJ. Ini supaya taman parkir ABA diserahkan melalui sewa kelola ke Pemkot Jogja. Menurut dia, proses tersebut bisa seiring dengan proses sosialisasi yang dilakukan Pemkot Jogja. “Tidak usah menunggu kami. Bisa langsung sosialisasi. Wong kesepakatanya dulu begitu,” tuturnya.

Menurut Rani, sebenarnya Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono (HB) X sudah dawuh, bahwa tahun ini juga untuk menata fasad atau tampilan muka bangunan di Malioboro. Tapi, untuk penataan fasad masih terkendala belum adanya regulasi. Perdais Tata Ruang sebagai payung hukum, sama sekali belum dibahas dengan DPRD DIJ. “Kalau untuk heritage nanti dinas kebudayaan. Tapi yang non heritage kami belum punya payung hukum,” jelas dia.

Menurut dia, sesuai dengan pesan HB X untuk membangun ruang juga sekaligus menciptakan budaya intagibel. Di antaranya menciptakan ruang untuk berinteraksi, dengan menyediakan kursi untuk istirahat atau tempat sampah di ruang publik. Namun diakuinya, pasti masih ada suara ketidakpuasan dari masyarakat. “Nanti kita buat yang istimewa tidak ecek-ecek,” tegasnya.

Sebelumnya HB X meminta dilakukan percepatan penataan di kawasan Malioboro. Setelah mulai menyelesaikan pembangunan di kawasan Keraton Jogjakarta, HB X meminta empat kawasan heritage lainnya di Kota Jogja, yaitu Malioboro, Pakualaman, Kotagede, dan Kotabaru juga dimulai. Menurut dia percepatan mutlak dilakukan karena selama ini tidak sesuai waktu perencanaan. “Kapan Malioboro ditata. Kok mundar-mundur wae. Pokoke diwiwiti sik,” tegasnya. (pra/din/ong)