HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
DIBERSIHKAN: BPBD Kulonprogo menurunkan satu unit alat berat untuk membersihkan akses jalan menuju objek wisata Kebun Teh Nglinggo, kemarin (8/2).

KULONPROGO – Objek wisata Kebun Teh Nglinggo di Samigaluh, Kulonprogo sementara waktu ditutup total. Hal itu menyusul tanah longsor yang mengakibatkan akses jalan satu-satunya ke lokasi wisata tersebut tak bisa dilalui.

Senin (8/2), material longsoran yang menutup akses jalan dibersihkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo harus menurunkan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi material longsor.

Kepala Desa Pagerharjo Widayat menjelaskan, tebing setinggi 20 meter dan lebar 10 meter di jalur menunju objek wisata Kebun Teh Nglinggo, tepatnya di Dusun Nglinggo Timur, Pagerharjo, Samigaluh itu longsor dan menutup jalan.

“Semua material longsoran yang menumpuk di jalan sempat berhasil dibersihkan. Namun, terjadi longsor susulan tak jauh dari lokasi sebelumnya,” jelasnya.

Widayat menambahkan, alat berat akhirnya kembali dijalankan untuk mendorong bongkahan batu ke tepi tebing. Serta membersihkan tanah dan membuang pohon yang tumbang bersama longsor agar tidak menghalangi jalan.

“Proses selanjutnya yakni menyemprotkan air ke median jalan sepanjang 20 meter di lokasi longsor. Agar tidak licin dan menyebabkan pengendara terpeleset saat jalur kembali dibuka,” terang Widayat.

Kapolsek Samigaluh AKP Lucia Sri Hartati menyatakan, mengantisipasi warga dan wisatawan nekat melintas, pihaknya memasang police line. Pengelola desa wisata Nglinggo juga tak mempermasalahkan penutupan akses jalan saat puncak liburan.

“Jangan sampai ada korban yang tertimpa longsor susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Apalagi hujan masih terus turun,” katanya.

Salah satu wisatawan, Nurul Ratri Anggraeni mengaku, tak bisa masuk ke area kebun teh. Menurutnya, objek wisata Kebun Teh Nglinggo memiliki keindahan alam yang luar biasa, udaranya sangat sejuk. Di sana juga bisa menikmati minum teh di tengah-tengah perkebunan. “Tapi mau bagaimana lagi kondisinya seperti ini, saya datang berombongan dari luar Jogjakarta. Kami sempat bertahan menunggu informasi apakah akan dibuka lagi atau tidak, akhirnya kami tidak bisa ke sana,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu, para wisatawan diarahkan mengunjungi lokasi wisata yang lainnya. Seperti Puncak Suroloyo, Kali Biru, dan beberapa objek wisata alternatif baru yang memang tengah naik daun di Kulonprogo.

Sementara itu, di Kabupaten Bantul, gempa bumi bukan satu-satunya bencana alam yang senantiasa menghantui warganya. Ancaman tanah longsor juga mengancam ribuan kepala keluarga (KK). Terutama mereka yang berdomisili di zona merah tanah longsor. Yakni, Piyungan, Pleret, Dlingo, Pundong, dan Imogiri. Kontur tanah di lima wilayah yang merupakan kawasan pebukitan tersebut labil.

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto mencatat sedikitnya 2.335 KK masuk zona merah. “Data ini sesuai hasil kajian kami,” ujarnya, kemarin (8/2).

Dwi mengimbau, warga di zona merah meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Terlebih, saat musim hujan seperti sekarang. Pengetahuan mitigasi bencana bagi warga zona merah sangat diperlukan. Itu menjadi prioritas program BPBD di awal 2016. “Potensi longsor memang tinggi,” lanjutnya.

Menurut Dwi, sebagian zona merah tersusun atas bebatuan yang tertutup tanah lempung. Itu yang menyebabkan kontur tanah labil. Saat musim kemarau, permukaan tanah pecah-pecah. Sebaliknya, saat musim penghujan berubah menjadi gembur sehingga mudah longsor. Persis seperti kontur tanah di perbukitan Kulonprogo dan Purworejo.

Dwi optimistis bencana tanah longsor bisa diantisipasi sedini mungkin. Itu hanya butuh kesadaran warga di zona merah. Ironisnya, sebagian warga justru tak peduli. Hal itu, lanjut Dwi, terlihat dari perilaku warga saat mendirikan bangunan hunian di dekat tebing.

Menurutnya, sebelum membangun rumah hunian, warga harus membuat terasiring atau memasang talud pada dinding tebing. Bukan dipangkas lurus tebingnya. Dwi menengarai, kebiasaan warga itulah yang kerap memicu timbulnya korban jiwa setiap terjadi tanah longsor.

Lima Rumah di Purworejo Terancam Longsor Susulan

Lima rumah di Dusun Suwinong RT 03 RW 02, Penungkulan, Gebang, Purworejo yang berada di dekat lokasi longsor terpaksa dikosongkan, pemiliknya mengungsi di tempat lain. Itu terhitung sehari setelah terjadi bencana Jumat (5/2) lalu. Mereka mengikuti imbauan BPBD Purworejo karena di lokasi tersebut masih memungkinkan terjadinya longsor susulan.

Muhsinun, 35, salah satu tokoh masyarakat di RW 2 mengatakan, kelima rumah yang berada sangat dekat dengan titik longsor itu milik Muntahar, 55; Juhari, 40; Minah, 70; Turiyem,56; dan Rame, 65.

“Kalau tiga rumah milik Muntahar, Juhari, Minah, dan Turiyem berada di bawah empat tiga rumah yang hancur tertimpa longsor,” ujarnya, kemarin (8/2).

Lokasi yang digunakan mengungsi, menurut Muhsinun, berbeda-beda karena mereka memilih tinggal dengan kerabat yang rumahnya aman dari potensi longsor. “Tempat mengungsinya tidak sama, sesuai keinginan mereka sendiri,” ungkap Muhsinun.

Sementara itu, sehari setelah penemuan dua mayat dari total tujuh warga yang tertimbun, BPBD Purworejo berkonsentrasi memulihkan akses jalan yang sempat mengisolasi 23 KK dengan jumlah jiwa mencapai 92 orang. Alat berat yang digunakan membantu proses pencarian dimanfaatkan untuk memulihkan jalan berupa jembatan kecil yang tertimbun material tanah.

Kabid Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Hardoyo ditemui di lokasi mengatakan, proses pemulihan jalan memakan waktu hingga setengah hari lebih. “Setelah penemuan kemarin, alat berat langsung diturunkan dan mulai membuka jalan,” kata Hardoyo.

Menurut Hardoyo proses pembersihan lumayan memakan waktu dikarenakan material tanah cukup tebal dan aliran saluran tertutup batang kayu dan batu. Dalam kesempatan itu, Hardoyo juga mengapresiasi warga yang tempat tinggalnya terancam longsor susulan untuk tidak tinggal sementara di lokasi tersebut. “Sebagian tanah di bagian atas sudah ada yang merekah dan sangat mungkin terjadi longsor susulan,” katanya.

Dengan terbukanya akses jalan yang ada, alat berat yang diterjunkan juga langsung ditarik untuk menangani dampak bencana yang ada di wilayah Kecamatan Bruno dan Gebang. Selain alat yang ada di Penungkulan, satu alat yang ada di Kaligesing ditarik untuk menangani jalan yang tertutup longsor di Somoleter, Bruno dan Ngaglik, Gebang. (tom/cr2/zam/yog/ila/ong)