DWI AGUS/Radar Jogja
MONUMENTAL: Patung enam presiden Indonesia karya Yusman yang dipajang di Museum TNI AD Dharma Wiratama. Yusman akan terus berkarya.

Belum Dapat Izin, Tak Bisa Abadikan Raja-Raja Jogjakarta

Patung tidak hanya sebuah karya seni. Lewat sebuah patung, Yusman mengabadikan kisah historis dan bernilai sejarah. Beberapa karya patungnya juga mengangkat sejarah tokoh dan peristiwa di Tanah Air. Siapa Yusman?

DWI AGUS, Jogja
Indonesia memiliki sejarah tinggi baik itu sebelum dan sesudah kermerdekaan. Bahkan di zaman kerajaan, berperan dalam membentuk Nusantara. Beberapa catatan sejarah pun tertuang dalam prasasti dan buku yang bisa dibaca hingga saat ini.

Tapi, bagi seorang pematung seperti Yusman, sejarah tidak hanya hadir dalam wujud teks. Sejarah juga diukir dalam sebuah patung. Baik itu tokoh, maupun peristiwa. Menurut seniman kelahiran Padang 12 November 1964 itu, patung dapat berbicara banyak. “Lewat patung, kita jadi tahu secara fisik bagaimana tokoh dan peristiwa saat itu,”kata Yusman.

Hal ini bisa menguatkan sejarah yang awalnya hanya ditulis. Atau semacam ilustrasi. Ini juga penting bagi anak-anak dan generasi muda, agar tidak menerawang tokoh dan peristiwa itu seperti apa.

Menurutnya, karya patung dapat merekonstruksi sejarah pada masa lalu. Bahkan, ke depan dapat mengabadikan sejarah bangsa untuk generasi muda. Peran seniman dalam mengabadikan sejarah bangsa ini telah diawali Raden Saleh.

Meski tak aktif berjuang di lapangan, namun Raden Saleh mengabadikan beragam peristiwa sejarah. Ini terlihat dalam torehan karya seni lukis Raden Saleh di era 1.800-an. Menurut Yusman ini bukti bahwa berjuang tidak harus dengan fisik dan melawan penjajah secara langsung.

“Raden Saleh bertempur dengan karya lukisnya. Ini membuktikan bahwa seniman memiliki peran dan andil besar bagi bangsa. Itu yang harus ditanamkan para seniman di Indonesia. Sehingga tidak hanya berkarya untuk kepentingan komersil, tapi juga untuk kemajuan bangsa,” jelasnya.

Di sisi lain peran seniman dalam mengabadikan sejarah bangsa belum optimal. Tidak semua seniman berperan dalam karya tokoh dan sejarah bangsa. Bahkan seniman yang benar-benar aktif membuat patung sejarah dapat dihitung dengan jari.

“Seniman bisa merekonstruksi sejarah berdasarkan cerita. Diwujudkan dalam patung atau relief. Di samping itu peran pihak lain untuk menggandeng seniman juga penting. Terutama dilibatkan dalam pembuatan tonggak tokoh dan sejarah bangsa,” tambahnya.

Sebagian karya-karya Yusman bisa dilihat di Museum TNI AD Dharma Wiratama Jalan Sudirman. Patung enam presiden Indonesia ditampilkan di sini. Yakni Ir Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, hingga Susilo Bambang Yudoyono. Patung Joko Widodo belum ada karena keenam patung ini dikerjakan di era pemerintahan SBY.

Selain patung keeenam presiden Indonesia ada pula relief dan mini diorama. Kedua relief menggambarkan sosok Panglima Besar Jenderal Soedirman. Relief pertama menggambarkan penjemputan sang jenderal seusai perang gerilya di daerah Prambanan.

“Saya juga membuat relief ketika istri Pak Dirman memberikan gelang. Perhiasan ini dijual sebagai modal bagi Pak Dirman dan pasukannya melakoni perang gerilya. Berdasarkan cerita sejarah lalu saya wujudkan dalam relief,” ujarnya.

Yusman mendalami dunia patung di ISI Jogjakarta. Tahun 1985 dia memutuskan untuk mengemban ilmu di Jogjakarta. Jauh dari tanah kelahirannya Padang untuk mewujudkan cita-cita dalam dunia seni patung.

Meski memiliki darah Padang, Yusman merasa sudah menjadi warga Jogjakarta sepenuhnya. Sebagai pematung, dia juga berharap Jogjakarta terus mengawal dunia seni. Yusman pun tak segan melayangkan kritik atau masukan dalam dunia seni.

Salah satu yang pernah dia lontarkan adalah Jogjakarta belum memiliki patung sejarah pendirinya. Sebagai kota seni, Jogjakarta justru memiliki banyak patung pahlawan nasional. Tapi patung Raja-Raja Jogjakarta belum pernah terabadikan. Salah satu alasannya belum diperbolehkan oleh keluarga Keraton Jogjakarta.

“Saya sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga Keraton Jogjakarta. Saya ingin sekali mengabadikan raja-raja Jogjakarta dalam patung. Ini penting untuk nilai historis sejarah Jogjakarta. Peran raja Jogjakarta di tanah Jawa itu penting. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX turut serta dalam kancah nasional,” jelasnya.

Impian terbesar lainnya adalah mematungkan kota kelahirannya, Padang. Sebagai anak Padang karya Yusman justru belum menyentuh tanah kelahiran. Dia pun memiliki angan-angan mendirikan sebuah tonggak bersejarah di Padang.

“Itu dia saya justru malah belum ada karya di tanah kelahiran. Padahal baru-baru ini saya membuat patung Raja Batak. Ini juga wujud menjaga agar iklim dunia patung di Indonesia terus terjaga. Terutama berkaitan dengan sejarah bangsa,” jelasnya.(din/ong)