GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA – Patung sosok Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX akhirnya dipindah dari Jalan Batikan ke Bangsal Kasatriyan Keraton Jogja. Pemindahan bertepatan dengan sugengan dalem Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) Ka 10, Selasa Wage (9/2) kemarin.

“Saya sudah bahagia sekali, tidak bisa omong apa-apa lagi,” ujar Ratnasuri, istri seniman Roestamadji yang membuat patung sosok HB IX, saat ditemui di luar Bangsal Kasatriyan, kemarin.

Ratnasuri tampak terharu menyaksikan karya suaminya yang kini berada di kompleks Keraton Jogja. Dengan menggunakan kursi roda, perempuan 84 tahun tersebut datang bersama keluarga besarnya ke Keraton Jogja atas undangan Raja Keraton Jogja Sri Sultan HB Ka 10.

Putra kedua Roestamadji, Sasongko mengaku, senang karena patung karya ayahnya mendapat tempat yang lebih baik. “Kami keluarga sangat senang, plong patung itu akan lebih terawat di sini (keraton). Tempat yang sangat layak,” katanya.

Sasongko sendiri mengaku tidak tahu proses pembuatan patung HB IX saat menjabat Menteri Pertahanan RI tersebut. Sebab, saat itu dia belum lahir. Menurut Sasongko, patung HB IX dari batu andesit tersebut dibuat saat Roestamadji masih bujang dan bergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat. “Sebenarnya ayah itu kan lebih banyak sebagai pelukis dari pada pematung,” tuturnya.

Terpisah, HB Ka 10 yang saat itu mengenakan pakaian batik kuning mengaku pemindahan patung HB IX karya Roestamadji tersebut sesuai dengan pesan ayahnya sewaktu masih hidup. Menurutnya, dulu sebelum wafat HB IX pernah berpesan untuk dicarikan patung dirinya yang tersender di bawah, yang berada di depan Koramil Pakualaman. “Setelah dicari tidak ada, saya tidak tahu kalau dipindah ke belakang (Koramil),” ujar HB Ka 10.

Setelah beberapa tahun, dia tidak melanjutkan pencarian, hingga sekitar empat bulan yang lalu ada informasi patung HB IX tersebut berada di belakang Koramil Pakualaman. Pihak keraton lantas mengajukan izin kepada keluarga Roestamadji untuk memindahkan patung sesuai wasiat HB IX. “Daripada hanya di bawah dipindahkan saja ke tempat yang beliau tentukan,” jelas suami GKR Hemas itu.

Pemindahan patung torso atau setengah badan ini bukan perkara yang mudah. Terutama untuk membawa patung dari batu andesit dengan berat 1,5 ton tersebut ke Bangsal Kasatriyan. Sebab, di dalam Keraton tidak diperbolehkan masuk alat-alat berat. Sedangkan untuk pengangkatan dari Jalan Batikan menggunakan crane. Sementara untuk membawa masuk dari regol Magangan ke Bangsal Kasatriyan menggunakan keseran dan gerobak yang dibuat sendiri. Di Bangsal Kasatriyan juga ditambahkan rantai untuk pengaman.

“Lantai diperlebar sedikit dan ditambahi rantai untuk pengaman, seperti patung-patung lainnya,” ujar Kepala Dinas PUP-ESDM DIJ Rani Sjamsinarsi ketika ditemui di Keraton.

Dinas PUP-ESDM DIJ memang dimintai tolong oleh Keraton Jogja untuk mengawal proses pemindahan patung yang dibuat pada 1951-1953 tersebut. Pemindahan patung tersebut juga menjadi pengalaman pertama bagi Rani. “Ya baru kali ini mindah patung, biasanya ya buat jalan,” kelakarnya.

Pemindahan patung ini dilakukan secara gotong royong oleh warga Glondong, Purwobinangun Pakem, Sleman. Menurut Ketua Sanggar Tiktuk Pambudi Sulistyo, mereka dimintai tolong oleh HB Ka 10 untuk memindahkan patung dari Jalan Batikan. Serta membuat pondasi untuk tempat patung. Pondasinya sendiri terbuat dari batu andesit Merapi seberat 2,5 ton.

“Batu yang diambil juga bukan dari alur Kali Boyong yang berhulu ke Kali Code. Batu pilihan,” terangnya.

Ketua Sanggar yang berada di Glondong tersebut mengaku, hanya memiliki waktu sepasar atau lima hari untuk membuat pondasi. Termasuk dua hari pengerjaan di Keraton. Pemasangan sendiri dimulai senin sore pukul 18.00 hingga 23.00 WIB.

“Yang mengerjakan gotong royong 20 warga Glondong. Untuk biayanya? Swadaya warga Glondong dan dari Keraton,” ujarnya tanpa mau menyebut nominal.

Warga Glondong sendiri ternyata punya hubungan khusus dengan Gubernur DIJ tersebut. Pambudi mengungkapkan, mereka adalah warga yang menolak penggunaan alat berat di Gunung Merapi. Pambudi yang juga seorang perupa tersebut mengaku senang karena karya Roestamadji akhirnya bisa masuk ke Keraton. “Atas nama seni rupa saya sampaikan terima kasih,” tuturnya.

Tentang kondisi patung HB IX sendiri, Pambudi ketika membandingkan dengan foto-foto sebelumnya, mengatakan ada sedikit kerusakan. Ada bagian patung yang cuil waktu mau diangkat. Menurut dia, kemungkinan dulu pernah mau dicoba dipindahkan dengan alat berat tapi gagal.

Pambudi juga memperkirakan patung HB IX dari batu andesit tersebut dulunya terbuat dari batu berukuran setinggi dua meter dan lebar sekitar 1,8 meter. Menurutnya, pembentukan batu andesit lebih susah dibandingkan batuan lainnya. “Bayangkan saja pada 1950-an memindahkan andesit dari Merapi ke Batikan butuh perjuangan berat,” jelasnya. (pra/ila/ong)