Hendri Utomo/Radar Jogja
EVAKUASI: Warga bergotongroyong membersihkan material tanah longsor yang menerjang rumah warga di Pedukuhan Gedong, RT 51/RW 26, Desa Purwosari, Girimulyo, kemarin (11/2).
 

KULONPROGO – Musibah bencana tanah longsor kembali terjadi di Kulonprogo. Kali ini longsor menerjang rumah Ananto, 36, warga Pedukuhan Gedong, RT 51/RW 26, Desa Purwosari, Girimulyo. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun dinding rumah korban rusak terkena material longsoran.

Korban Ananto mengungkapkan, longsor terjadi Rabu malam (10/2) sekitar pukul 19.30. Saat kejadian, dirinya tengah di dapur membuat kopi.

“Tahu-tahu ada suara tanah bergerak. Setelah saya pastikan longsor sudah menerjang dinding rumah, batu besar juga menimpa atap rumah,” ungkapnya suami Tri Rahayu, 32, ini.

Ananto melanjutkan, longsor terjadi begitu saja tanpa ada tanda-tanda sebelumnya. Hujan memang berlangsug cukup lama. Namun tidak terlalu deras.

“Kebetulan rumah ini rumah baru saya ditempati dua minggu. Kalau membuatnya sudah tiga bulan lalu,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Purwosari Purwito Nugorho Pujimulyanto menjelaskan, tebing yang longsor panjangnya sekitar 8 meter dan tingginya 10 meter. Warga dibantu relawan dari Tagana Kampung Siaga Bencana (KSB) Desa Purwosari, TNI/Polri, dan BPBD langsung melakukan kerja bakti membersihkan material longsor.

“Ada 50 orang yang ikut dalam kerja bakti. Dimulai pukul 07.00, material tanah longsor dan batu besar yang menimpa atap sudah bisa disingkirkan,” jelasnya.

Purwito mengatakan, bantuan logistik dari BPBD dan Dinas Sosial Kulonprogo juga sudah diberikan. Camat Girimulyo Purwono dan Kepala BPBD Kulonprogo Gusdi Hartono sudah menyempatkan ke lokasi bencana.

“Setelah diamati, belum ada rencana merelokasi korban. Rumah masih dalam kondisi aman untuk ditinggali, kendati tetap dalam pantauan,” katanya.

Di Pedukuhan Gedong, ada beberapa rekahan yang selama ini terus dipantau. Termasuk sudah dipasang early warning sistem (EWS). Posisi rekahan di atas perbukitan dan setiap musim hujan dengan intensitas tinggi sering terjadi pergerakan.

“Di Purwosari ada tiga EWS yang terpasang. Masing-masing di Dusun Gedong, Nogosari, dan Penggung. Selama ini kami terus pantau rekahan-rekahan itu, khususnya saat curah hujan tinggi dan lama,” ungkapnya.

Purwito memaparkan, Desa Purwosari terdiri dari 13 pedukuhan. Desa yang dipimpinnya dihuni 1521 KK atau 4836 jiwa. Semuanya berada di daerah rawan longsor.

Dengan kondisi wilayah yang bertopografi perbukitan yang labil, sejak 2015 desa ini berstatus desa siaga bencana.

“Beberapa simulai dan pelatihan sudah dilakukan. Di desa kami, juga memiliki relawanan Tagana dari KSB. Simulasi tanah longsor juga akan dilaksanakan tahun ini dengan agaran APBDes. Khusus relawan KSB Purwosari,” paparnya.

Kasi Perlindungan Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kulonprogo Marsinggih menyatakan, bencana tanah longsor di Desa Purwosari relatif mudah penanganannya. Karena sudah terbentuk KSB. Termasuk distribusi bantuan saat terjadi bencana. Secara prosedur bisa melalui KSB yang ada.

“Relawan atau Tagana dari KSB inilah yang mengampu saat bencana di Purwosari. Setelah ada laporan bencana, kami langsung meninjau ke lapanga, Selain dalam rangka pembinaan, juga menyerahkan bantuan. Oleh KSB, bantuan tersebut akan diteruskan,” katanya.

Bantuan logistik yang diberikan bermacam-macam. Mulai mi instan, beras, terpal, tenda, hingga selimut. Juga kebutuhan lainnya Bantuan logistik itu nantinya disesuaikan kebutuhan di lapangan.

“Setelah kami assesment di lapangan, distribusi logistik diserahkan ke KSB. Intinya apa yang dibutuhkan KSB sesuai kebutuhan di lapangan, kami dukung,” tandasnya.

Selain Desa Purwosari, di Kokap juga sempat terjadi bencana tanah longsor. Sda dua keluarga yang menjadi korban. Satu di antaranya rumahnya rusak berat. Dengan begitu, selain membantu logistik, relawan di lapangan juga membantu dengan program lain.

“Seperti bedah rumah. Ini bisa menggandeng program lain yang sudah berjalan selama ini,” katanya.(tom/hes/ong)