BANTUL- Pemerintah pusat punya proyek besar membangun instalasi pipa sambungan air minum di wilayah Bantul tahun ini. Hanya, untuk kepentingan itu Pemkab Bantul harus nombok dulu hingga Rp 4,5 miliar.

Dana talangan tersebut sebagai penyertaan modal bagi PDAM Tirta Dharma guna melaksanakan program tersebut.

Kendati demikian, alokasi dana yang tersedia belum mampu memenuhi permintaan semua pelanggan. PDAM hanya mampu memenuhi permohonan sambungan bagi 1.500 kepala keluarga (KK) dari sekitar 2.700 KK yang mendaftar pada akhir 2015. Dana talangan akan diganti oleh Kementerian Keuangan melalui transfer ke rekening kas daerah setelah program terealisasi.

Direktur Utama PDAM Tirta Dharma Yudi Indarto mengatakan, program tersebut khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satu syaratnya bisa diukur dari meteran listrik. Hanya rumah dengan kapasitas maksimal 1.300 watt bisa mengajukan permohonan sambungan baru.

“Belum semua pendaftar yang masuk kuota disetujui sebagai peserta program MBR. Masih ada satu tahapan lagi,” paparnya kemarin (11/2).

Untuk memastikan kharakter calon pelanggan, pemerintah pusat akan menerjunkan tim untuk mengecek langsung rumah-rumah calon pelanggan yang masuk kuota. Jika ketahuan ada yang tak memenuhi syarat, pendaftar yang bersangkutan akan dicoret. Kemudian diganti dengan nama lain. Karena itu, PDAM memasukkan 1.650 KK calon pelanggan program MBR. “Penambahan 10 persen untuk berjaga-jaga bila ada yang dicoret,” ungkapnya.

Yudi berjanji akan menambah kuota seandainya program MBR berlanjut pada 2017. Setidaknya untuk memenuhi 2 ribu pelanggan baru. Yudi mengatakan, program sambungan pipa murah bukan semata-mata untuk memenuhi hak warga dalam pemenuhan air bersih. Lebih dari itu, sarana tersebut bermanfaat untuk mengurangi titik-titik wilayah rawan air bersih saat kemarau. “Tidak ada ruginya bagi pemkab. Dari sisi bisnis PDAM juga diuntungkan,” katanya.

Saat ini PDAM memiliki 13 instalasi pengolahan air bersih untuk memenuhi kebutuhan 24 ribu KK.

Ketua Komisi B DPRD Bantul Widodo mengingatkan pemerintah bahwa proyek sambungan murah PDAM bukan sekedar orientasi keuntungan. Lebih dari itu, ada misi sosial yang diemban. Untuk menyejahterakan masyarakat. “Dobel keuntungannya. Kami dorong kelancaran program ini,” ujarnya.

Sementara itu, proyek serupa juga dilakukan PDAM Sleman. Direktur PDAM Sleman Dwi Nurwata mengatakan, sasaran program MBR di wilayah “”Sego Pinggiran”, yakni Seyegan, Godean, Gamping, Minggir, dan Moyudan. Menurut Dwi, sambungan baru memanfaatkan sumber air dari Sungai Progo yang menghasilkan debit hingga 200 liter per detik. Dari jumlah itu, Sleman mengelola 50 liter per detik.

Sesuai site plan, debit air yang tersedia mampu menjangkau sekitar empat ribu pelanggan. “Pelanggan terbanyak di wilayah Gamping yang setiap tahun selalu dilanda kekeringan,” tuturnya. (zam/yog/ong)