SLEMAN- Ancaman bencana tanah longsor, angin kencang, dan banjir lahar hujan masih mengintai warga Sleman. Untuk mencegah timbulnya korban, semua elemen masyarakat dituntut siaga dan waspada menghadapi bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, antisipasi bencana harus menjadi prioritas warga selama puncak musim hujan saat ini. Sejak awal 2016, lahar hujan memang belum tampak di aliran-aliran sungai berhulu di puncak Gunung Merapi. “Bagaimanapun juga itu harus diantisipasi sejak dini,” tegasnya disela apel siaga bencana di Lapangan Denggung kemarin (11/2).

Meskipun intensitasnya kecil, lanjut Julisetiono, tanah longsor melanda warga Prambanan dalam dua pekan terakhir. Enam desa terdeteksi rawan longsor, antara lain, Gayamharjo, Wukirharjo, Madurejo, Sambirejo, Bokoharjo, dan Sumberharjo. Sedikitnya 283 kepala keluarga masuk zona rawan longsor.

Pemerintah telah memasang sarana early warning sytem (EWS) di lokasi tanah labil. Setiap hujan, warga diimbau selalu memperhatikan sinyal EWS. Agar saat terjadi tanah longsor tidak terlambat mengungsi ke tempat aman.

Sementara itu, kesiapan penanggulangan bencana juga dilakukan aparat Polres Sleman. Sedikitnya dua ribu personil disiagakan untuk antisipasi bencana. Mereka disebar di setiap Polsek.

Wakapolres Sleman Kompol Sri Wibowo mengatakan, setiap personil didukung peralatan pendukung kebencanaan. “Kami juga membentuk satuan tugas inti yang setiap saat siap diterjunkan ke lokasi bencana,” ujarnya.

Selain siaga, aparat mendapat tugas memantau situasi dan kondisi kawasan potensial bencana di wilayah masing-masing. Setiap personil Polri juga dilibatkan dalam latihan bersama penaggulangan bencana. Bersama tim BPBD dan relawan. Itu diawali dengan apel siaga untuk menyiapkan mental dan psikis aparat sebelum melaksanakan tugas.(bhn/yog/ong)