MUNGKID – Hujan deras yang mengguyur kawasan Perbukitan Menoreh kembali menuai musibah. Sembilan orang warga Dusun Dusun Kranjang Lor 1, Sidosari, Salaman harus mengungsi setelah tebing setinggi tiga meter dengan lebar 30 meter di atas rumah mereka longsor, Rabu (10/2) siang. Material tanah dan batuan menimpa dua rumah milik Sarmadi,80, dan Jarodin, 63. Dinding kedua rumah korban jebol. Nilai kerugian diperkirakan sebesar Rp 15 juta.

Rohmiati, 29, tetangga korban, menuturkan, musibah terjadi sekitar pukul 12.00. Saat itu, hujan sempat reda beberapa saat, sebelum turun lagi dengan intensitas lebih tinggi. “Saat saya kembali dari masjid dua rumah itu sudah kelongsoran,” ungkap Rohmiati yang rumahnya bersebelahan dengan rumah korban. Meski dilingkupi rasa was-was, Rohmiati nekat masuk ke dalam rumah untuk mengungsikan orang tuanya yang lanjut usia.

Ancaman tanah longsor di lokasi tersebut ternyata telah terdeteksi seminggu sebelumnya. Ada lima rumah yang terancam. Kepala Desa Sidosari M Triyono mengatakan, sebelum longsor, permukaan tanah tebing mengalami retak sepanjang 10 meter dengan lebar setengah meter.

Hujan deras mengakibatkan rekahan tanah makin lebar dan memanjang sekitar 30 meter. Itu berakibat tanah amblas hingga tiga meter, kemudian longsor. “Tanah amblas juga mengkibatkan lantai rumah warga terangkat,” katanya..

Guna mengantisipasi dampak longsor susulan, warga berinisiatif membangun teras siring pada dinding tebing. Pohon-pohon kayu ditebang agar tak membebani kontur tanah. Rekahan baru yang muncul setelah longsor ditutup agar air tak meresap ke dalam tanah.

Selanjutnya, dibantu aparat TNI, Polri, dan relawan, warga memperbaiki rumah korban. “Kami juga telah mengirim bantuan untuk para korban,” ungkap Kiswadi, anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magelang.(ady/yog/ong)