ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
GUYUB: Warga dibantu aparat TNI dan polisi membuat saluran air ditebing Dusun Kranjang Lor 1, Sidosari, Salaman untuk mengantisipasi longsor susulan. Tanah longsor terjadi di kawasan tersebut pada Rabu 10/2
MUNGKID – Wakil Bupati Magelang M. Za-enal Arifin me ngim bau warga selalu waspada meng hadapi bencana. Terutama se ti ap kali terjadi hujan dengan in ten sitas tinggi. Imbauan tersebut khu susnya ditujukan bagi warga yang berdomisili di zona merah ta nah longsor atau kawasan per bu kitan. “Saat hujan lebat lebih baik me ngung si dulu. Hindari ke mung ki nan tanah longsor,” tuturnya ke ma rin (12/2).

Menurut Zaenal, pemkab be lum berpikir untuk merelokasi war ga zona merah. Sebab, langkah ter sebut membutuhkan pe ne li ti an dan kajian. Zaenal khawatir ji ka relokasi dip-aksakan justru akan menimbulkan persoalan baru. Kendati demikian, relokasi bu kan hal yang mustahil di la ku kan pemerintah. Asalkan war-ga sa sa ran relokasi kooperatif. “Kami si ap. Tapi, yang pen ting warga a man dulu,” tegas nya.

Sebelum relokasi, Zaenal akan men da hu luinya dengan so si a li sa si kepada warga. Tentang bahaya tinggal di permukiman kawasan rawan longsor.Sebagaimana diketahui, em pat dusun di Desa Sidosari, Salaman merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor. Yakni, Kranjang Lor 1, Kranjang Lor 2, Palungan, dan Banaran. Sedikitnya 93 rumah warga terancam bahaya longsor.

Sebab, kontur tanah di kawasan ter-sebut sangat labil. “Tanah bergerak setiap hari, se hing ga me nim bulkan rekahan,” ung kap Kades Sidosari M. Triyono. Menurut Triyono, ancaman ba ha ya terbesar di Dusun Palungan. Sa at ini tiga rumah warga di la por kan rusak akibat ta nah berge rak. Ke-rusakan be ru pa retak pa da bagian dinding dan lantai. Na mun demikian, war ga setempat be-lum berencana untuk relo ka si. Warga berusaha meminimalisasi potensi longsor dengan membangun saluran air di jalur rekahan tanah. Hal itu dimaksudkan me-ngu rangi debit air masuk ke dalam tanah. Agar rekahan tidak melebar.(ady/yog/ong)