GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
 
JOGJA – Lingkungan hijau di Jogja dan Sleman, kini terancam hutan beton. Jika selama ini ada ruang kosong yang ditanami tanaman, sekarang berubah menjadi bangunan. Alhasil, warga kesulitan untuk berinteraksi karena sempitnya lahan.

Berangkat dari situ, sebagian warga yang peduli terhadap keberlangsungan pembangunan di DIJ membuat aksi dengan membagikan ratusan bibit pohon. Semangat untuk menyelamatkan lingkungan ini digagas oleh komunitas Warga Berdaya.

Mereka membagikan bibit pohon di kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Minggu pagi (14/2). Aksi dengan tema Ayo Gawe Kebon, Ojo Nandur Beton ini merupakan bagian dari kampanye Jogja Ora Didol.

Mereka membagikan aneka bibit buah dan sayuran. Di antaranya terong, cabai, dan pepaya. “Ini bagian dari kampanye Jogja Ora Didol yang kami lakukan secara berkelanjutan. Kami ingin kampanye itu terus disuarakan,” ucap salah satu peserta aksi dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogjakarta Khalik Sandera.

Direktur Walhi Jogjakarta ini mengatakan, kampanye sengaja dilakukan dengan membagikan bibit tanaman pangan. Ini untuk mendorong masyarakat agar mau berkebun. Apalagi, berkebun, tidak harus dilakukan di pedesaan dengan lahan pertanian yang luas. Tetapi dapat dilakukan di perkotaan dengan lahan yang cukup sempit.

Salah satunya dengan memanfaatkan bahan tertentu atau barang bekas sebagai media tanamnya. Langkah itu dinilai cukup positif sebagai bagian dari kemandirian pangan warga. Beberapa jenis tanaman bisa untuk keperluan konsumsi sendiri. Dengan begitu, warga tidak harus beli karena sudah bisa didapatkan dari kebunnya sendiri.

“Hanya, untuk menanam itu membutuhkan sinar matahari. Dan, sinar matahari itu tidak akan didapat jika pembangunan hotel masih terus berlangsung,” kata Khalik.

Dia mengklaim, pembangunan hotel yang cukup masif memberi dampak negatif bagi kehidupan warga. Sebab, warga membutuhkan lahan dan ruang untuk kehidupannya. “Saat ada tanaman, maka ada ruang untuk interaksi. Tanaman juga memiliki banyak fungsi, selain menyerap karbon dioksida juga menghasilkan oksigen,” jelasnya.

Khalik menegaskan, aksi ini merupakan kampanye berkelanjutan untuk mengkritisi maraknya pembangunan hotel di Jogjakarta. Baik di Kota Jogja, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Terlebih, pembangunan masif dilakukan tanpa memperhatikan daya tampung dan daya dukung.

“Yang membawa pulang bibit pagi ini diharapkan bisa menginformasikan perkembangan tanamannya. Juga saling memberi kabar jika ada ancaman pembangunan yang akan memberi dampak negatif bagi lingkungan,” ungkapnya.

Pudjo, 75, salah satu warga asal Sleman, sengaja mengambil lebih banyak bibit untuk dibawa pulang. Dia mengaku akan menanam bibit tanaman tersebut di pekarangan rumahnya. “Saya pilih yang kecil-kecil saja biar banyak. Nanti ditanam di pekarangan rumah,” ucapnya.

Sementara itu, terkait maraknya pembangunan hotel dan apartemen, pemerintah setempat sudah mengeluarkan moratorium. Sebelumnya, Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi mengeluarkan moratorium pembangunan hotel dan apartemen. Kebijakan itu tertuang dalam Perbup No 63/ 2015.

Dipastikan banyak pengusaha apartemen yang harus gigit jari setelah dikeluarkannya peraturan bupati tentang penghentian sementara pendirian hotel, apartemen, dan kondotel itu. Gatot tidak ingin wilayah Sleman ke depan dipenuhi hutan beton yang dalam pendiriannya kerap menuai konflik dengan masyarakat setempat. “Moratorium berlaku hingga lima tahun ke depan,” ungkapnya.

Sedangkan di Kota Jogja, moratorium izin hotel menggunakan landasan hukum Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 77 Tahun 2013. Moratorium ini berlaku sampai 31 Desember 2016 nanti. (eri/ila)