BANTUL – Kesadaran masyarakat untuk menabung masih rendah. Padahal, menabung bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Secara tak langsung, nasabah yang menyimpan uangnya di bank turut mendukung pembangunan negara.

Banyak alasan masyarakat enggan menyimpan harta mereka di bank. Tak bisa dipungkiri, kekhawatiran uang hilang jika bank tempat menabung kolaps masih menjadi momok nomor satu sebagian besar masyarakat. Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Samsu Adi Nugroho mengakui hal tersebut. Alasan lain yang sering muncul adalah minimnya akses ke bank. Atau menabung di bank dianggap merepotkan. “Kekhawatiran semacam itu harus dihilangkan,” ujar Samsu saat berkunjung ke Panti Asuhan Abdul Alim Muhammadiyah di Desa Wukirsari, Imogiri akhir pekan lalu.

Menurut Samsu, beragam kekhawatiran masyarakat menyebabkan jumlah nasabah di bank jauh dari harapan. Saat ini tercatat sedikitnya 170 juta rekening se-Indonesia. Dengan total nilai uang mencapai Rp 4.500 triliun. Ternyata, separo dari jumlah tabungan hanya dimiliki oleh sekitar 200 ribu nasabah. Padahal, idealnya, setiap warga usia produktif minimal memiliki satu rekening di bank. Itu guna mendukung dana pembangunan nasional. Lebih dari itu, uang tabungan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mendadak dan mendesak.

Atas dasar itulah LPS rajin melakukan road show ke lembaga-lembaga pendidikan untuk mendorong siswa gemar menabung. Dia mengimbau agar setiap siswa atau santri menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung di bank.

Samsu menegaskan, LPS menjamin setiap tabungan nasabah tidak akan hilang meskipun bank tempat menimpan uang mengalami kolaps dan harus tutup. “Menyangkut soal riba, ada solusinya melalui sistem syariah,” lanjutnya.

Guna mendukung program LPS, Ali Surajiman, pengasuh Panti Asuhan Abdul Alim Muhammadiyah, berencana mewajibkan para santri membuat rekening di bank. (mar/yog/ong)