BANTUL – Tantangan pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tak membuat perajin kulit di Manding, Bantul keder. Pasang surut ekonomi pernah mereka alami. Dari masa jaya, terpuruk, hingga pernah berhenti total tanpa produksi. Kini, Manding kembali bergeliat. Bermetamorfosis dari sentra indusktri menjadi ikon wisata belanja di selatan Bumi Projotamansari.

“Kami punya sejarah perjalanan yang komplit,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) SKKM Jumakir kemarin (14/2).

Berbagai pengalaman yang dialami perajin justru menjadi cambuk untuk bebenah. Mereka tak ingin hanya menjadi produsen. Dari semula hanya membuat aneka kerajinan, kini banyak showroom mereka buka. Para pengusaha Manding pun tak alergi dengan produk sejenis dari pusat-pusat kerajinan kulit di Pulau Jawa. Seperti, Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat atau Magetan dan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan, mereka tak segan memajang aneka produk asesoris “impor” di etalase showroom. Faktanya, Manding yang berdiri sejak 1957 itu masih eksis menjamu wisatawan.

Jumakir menuturkan, sejak berdiri, SKKM tak hanya melayani pembeli lokal. Permintaan ekspor keluar negeri juga dijamah, seperti sandal dan sepatu. Meskipun, saat itu hanya ada tiga rumah produksi dengan tenaga kerja 45 orang. Namun, itu hanya berjalan lima tahun. Pada 1962 produksi kerajinan kulit berhenti total. Gempuran produk asal Jepang dengan harga lebih murah menjadi penyebabnya. “1962 hingga 1975 kerajinan di sini benar-benar kolaps,” ungkapnya.

Perajin mulai bangkit setahun kemudian. Itu setelah Pemda DIJ turun tangan. Berbagai program ditawarkan, mulai pelatihan, bantuan alat, modal, sampai pendirian unit pelaksana teknis (UPT), dan koperasi. Bahkan, pemda mempertemukan langsung para perajin kepada calon buyer mancanegara.

Dari situ, Manding kembali bergeliat. Tak tanggung-tanggung, jumlah rumah produksi pun bertambah pesat menjadi 96 unit usaha. Menyerap 650 tenaga kerja. Alhasil, dalam kurun 1976-2000 kerajinan kulit makin menjamur.

Pesatnya ekspor ternyata berubah menjadi bumerang bagi perajin Manding. Konsumen mancanegara yang semula bermitra beralih peran menjadi kompetitor. Tapi, hal itu tak disadari para perajin.

Para perajin senior telah “dikelabuhi” buyer asing. Mereka diiming-imingi gaji besar dan diminta bekerja kepada mereka sebagai instruktur rumah produksi di Bali. Itu terjadi sekitar 1985. Terang saja para perajin senior tergiur. Bagaimana tidak, gaji yang ditawarkan Rp 75 ribu perhari sama dengan tiga kali upah mereka di Manding.

Selesai program pelatihan, investor asing yang mempekerjakan perajin Manding mendirikan rumah produksi kulit sendiri di Bali dan Dusun Tembi. Mereka juga memangkas honor perajin senior seperti sediakala. “Itu yang menyebabkan kerajinan kulit Manding ambruk lagi pada 2000. Pasar ekspor dikuasai bekas buyer,” paparnya.

Manding kembali “hidup” justru setelah banyak mendatangkan produk asal Cibaduyut, Magetan, dan Tanggulangin. Khususnya sepatu. Itu bagian strategi mengubah imej sentra industri menjadi wisata belanja. Selain itu, produk Manding kalah dari sisi harga maupun jumlah produksi. Karena itu, perajin Manding fokus menggarap jaket, tas, dan asesoris.

“Produk sepatu luar daerah lebih murah karena menggunakan mesin. Sepatu manding murni handmade,” jelas Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Sulistyanta.

Sulistyanta meyakini, konsumen yang paham tentang kualitas sepatu kulit pasti memilih garapan perajin Manding. .(zam/yog/ong)