SLEMAN – Kabupaten Sleman kian dilirik para pengusaha nasional yang ingin mengembangkan bisnis di daerah. Dari tahun ke tahun nilai investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) mengalami lonjakan. Itu menjadi bukti bahwa Sleman masih menjadi surganya para pemodal besar.

Data di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Sleman menunjukkan, nilai investasi PMDN selama 2015 mencapai Rp 3,1 triliun. Naik sekitar 62,37 persen dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan penanaman modal asing (PMA) meningkat hanya 0,68 persen, namun mampu menampung 6.297 tenaga kerja.

“PMDN pada 2014 hanya Rp 1,4 triliun,” jelas Kepala BPMPPT Sleman Purwatna Widada kemarin (14/2).

Kenaikan nilai investasi ternyata tak dibarengi pertambahan jumlah unit usaha. Yang pada 2015 hanya tumbuh 13,26 persen dari capaian 2014 sebanyak 45 unit usaha. Kini ada 51 unit usaha yang beroperasi dengan PMDN.

Sektor pariwisata memang paling mendominasi dari sisi nilai investasi, yang mencapai Rp 1,4 triliun. Namun, dari sisi tenaga kerja, penyerapan terbesar terjadi di sektor perindustrian. Meski nilai investasi hanya Rp 510 miliar, tenaga kerja terserap mencapai 6.970 orang. Sedangkan sektor pariwisata hanya mampu menyerap 2.592 orang.

Sementara sektor perdagangan dan jasa dengan nilai investasi Rp 1,2 trilun menyerap tenaga kerja sebanyak 1.991 orang.

Ironisnya, sektor pertanian yang merupakan salah satu potensi terbesar Sleman justru tidak dilirik investor. Tak ada modal dari dalam negeri. “Yang masuk malah modal asing sebesar dua juta dolar Amerika Serikat. Tenaga kerja terserap 67 orang,” ungkap dia. Khusus PMA, lanjut Purwatna, pengelolaannya oleh pemerintah pusat. Pemkab hanya berperan sebagai fasilitator.

Melihat data dan fakta tersebut, Purwatna menyatakan bahwa pemkab masih membuka lebar peluang investasi bagi siapapun. Tujuannya, menampung lebih banyak tenaga kerja lokal.

Kasubid Pengembangan Investasi Sriyono menambahkan, pemkab tidak akan mempersulit birokrasi perizinan bagi para investor. Asal semua persyaratan dipenuhi, izin bisa diproses dengan batas waktu tertentu. “Jika dulu bisa berbulan-bulan, sekarang cukup tiga hari selesai,” kata Sriyono.

Garansi yang disampaikan Sriyono tak lepas kepentingan pemerintah menambah nilai investasi untuk mendorong pembangunan. Terkait kebijakan moratorium hotel, apartemen, dan kondotel, Sriyono mengakui ada pengaruh terhadap geliat investasi di Sleman. Tapi itu bukan masalah besar. Pemkab lebih mendorong peningkatan sektor perdagangan, jasa, dan industri. (bhn/yog/ong)