Gunawan/Radar Jogja
ANCAMAN: Warga Beji, Patuk menyingkirkan material batu dan tanah akibat longsor belum lama ini. Wilayah ini masuk kawasan zona merah, karena pemukiman menempati tanah labil.

GUNUNGKIDUL – Hujan diikuti rentetan bencana akhir-akhir ini terus melanda sejumlah wilayah Gunungkidul. Meski tidak menelan korban jiwa, keselamatan warga terancam. Terutama mereka yang tinggal di kawasan zona merah.

“Kami menetapkan status siaga longsor bagi kecamatan yang berada di zona merah,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Budhi Harjo kemarin (14/2).

Budhi menjelaskan, penetapan status ini berkaitan dengan tingginya curah hujan. Ini mengacu pada data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ mengenai perkiraan cuaca.

“Penetapan status siaga longsor rencananya akan diberlakukan hingga akhir Maret 2016,” ujarnya.

Menurut Budhi, sebenarnya kesiagaan bencana longsor sudah ditetapkan sejak awal tahun ini. Namun intensitas hujan baru terlihat pada awal Februari. Dari situ, BPBD mengingatkan kembali akan potensi bahaya.

“Tingginya intensitas hujan belakangan ini mengakibatkan lonsor di sejumlah wilayah. Sepekan terakhir, ada empat kejadian longsor dan satu rumah ambruk, tersapu puting beliung,” paparnya.

Lokasi longsor berada di Desa Hargomulyo dan Tegalrejo di Kecamatan Gedangsari. Sedang satu lokasi lainnya berada di Desa Beji, Kecamatan Patuk.

Terkait status siaga longsor, BPBD membuat pemberitahuan resmi ke seluruh kecamatan.

“Penetapan status siaga seluruh personel BPBD dipersiapan untuk meninjau lokasi rawan dan siap datang ke lokasi longsor, saat dibutuhkan sewaktu-waktu,” terangnya.

Dikatakan, memang status siaga longsor ditetapkan hingga akhir Maret. Namun sifatnya situasional dan bergantung dengan laporan cuaca dari BMKG. Karena itu, selain menyiapkan bantuan tenaga untuk proses evakuasi, juga disediakan logistik bagi korban.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono mengatakan, seluruh korban longsor telah mendapatkan bantuan logisitik. Upaya evakuasi juga sudah dilakukan.

“Begitu mendapat laporan ada bencana, kami langsung ngecek lokasi,” kata Sutaryono.

Menurut Sutaryono, bencana longsor tidak bisa diprediksi. Sejauh ini, BPBD mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta mengenali tanda-tanda akan terjadinya longsor.

“Tanda longsor paling terlihat akan terjadi longsor diawali hujan deras. Kemudian pemukiman wilayah perbukitan muncul rembesan air mulai ada di sekitar tebing,” ungkapnya.

Selain itu, pertanda lain bisa dilihat dari kondisi pohon di sekitar lokasi. Biasanya kalau akan terjadi longsor, pohon mulai miring dan tidak lagi tegak lantaran kondisi tanah mulai labil. Jika pertanda tersebut muncul, warga diminta mengungsi ke tempat aman.(gun/hes/ong)