MUNGKID – Keberadaan pabrik kayu di Dusun Wonoboyo, Keji, Muntilan, mendapat pertentangan dari warga sekitar. Sejumlah warga mendatangi balai desa setempat untuk meminta kejelasan keberadaan pabrik yang ada di tengah pemukiman itu. Warga menilai keberadaan limbah pabrik sangat mencemari lingkungan.

“Yang paling kami takutkan bagian open yang menimbulkan asap pekat dari corong. Dan itu sangat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar,” ujar salah seorang warga Brian Pradana kemarin (13/2).

Warga menduga bagian open di parbik itu beroperasi selama 24 jam. Bau asap pabrik dinilai sangat meresahkan warga sekitar. “Apalagi bau asap kan bisa masuk ke dalam rumah. Kami harus menutup rumah rapat-rapat supaya asap tidak masuk ke rumah,” imbuhnya.

Hal serupa juga diungkapkan warga lainnya, Eddy Syahputra. Ia heran karena selama 7-8 bulan pabrik berdiri, berbagai keluhan warga tidak pernah didengar oleh pemilik pabrik.

Warga menilai, keberadaan pabrik itu ilegal karena tidak pernah ditembusi terkait keberadaan izin Amdal. Hal lain yang dikeluhkan warga adalah serbuk limbah, asap, dan debu pabrik, kebisingan, dan arus lalu lintas bongkar muat.

“Kami yang paling merasakan dampaknya. Karena wilayah RT kami paling berdekatan dengan pabrik dan bersentuhan langsung,” urainya.

Warga lainya, Sri Suswati, mengungkapkan, sejumlah warga mengalami beberapa penyakit yang diduga karena limbah pabrik. Di antaranya penyakit sesak nafas karena debu dan asap pabrik. Warga berharap aktivitas pabrik itu segera dipindahkan.

“Harapan saya dipindah karena selama 7-8 bulan pabrik itu berdiri tidak pernah mendengar keluh kesah warga sekitar,” pintanya.

Sementara Pj Sekretaris Desa Keji Supriyono meminta warga untuk tidak mengambil kesimpulan terhadap gangguan pabrik. Hal ini untuk menghindari prasangka negatif.

“Harus ada kejelasan dulu dari dinas terkait untuk melakukan pengecekan. Jangan sampai apa yang disampaikan warga itu hanya prasangka saja,” katanya saat menjawab keluhan warganya.

Penanggung Jawab Pabrik Miftahudin meminta warga menghargai sejumlah proses yang saat ini masih berjalan. Di antaranya seperti perizinan. “Secara pribadi saya banyak fitnah. Saya minta ada waktu untuk membicarakan hal ini secara tertutup,” katanya. (ady/laz/ong)