JOGJA – Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIJ menyebutkan, ada 20 desa di DIJ masih masuk dalam kategori rawan. Desa-desa itu berada di empat kabupaten dan Kota Jogja. Munculnya desa rawan pangan tersebut juga disebabkan tingkat kemiskinan yang terjadi di wilayah tersebut.

Menurut Kepala BKPP DIJ Arofa Noor Indriani, 20 desa rawan terjadi keurangan pangan tersebut rinciannya di Kulonprogo sembilan desa, Gunungkidul tujuh, Bantul tiga, dan Kota Jogja satu. “Untuk Sleman tidak ada desa rawan pangan,” ujar Arofa seusai mengikuti rapat di Kepatihan kemarin (15/2).

Penentuan desa rawan berdasar tiga indikator, yaitu ketersediaan pangan, kemampuan masyarakat untuk membeli komoditas pangan pokok, dan kemampuan masyarakat mengakses pangan yang sehat.

Untuk menanggulanginya BKPP DIJ juga mengembangkan Lembaga Akses Pangan Masyarakat (LAPM). Tujuannya agar harga komoditas pangan pokok di daerah pelosok, sama dengan harga di perkotaan atau sentra. “Kami mendekatkan komoditi pangan pokok ke daerah pelosok supaya harganya tetap sama. Itu terobosan kami untuk bisa menyejahterakan masyarakat,” jelas Arofa.

Selain itu, BKPP DIJ menyediakan cadangan pangan sebanyak 191 ton yang dititipkan di Bulog. Cadangan tersebut didistribusikan sewaktu-waktu jika desa yang terdata pihaknya mengalami kekurangan pangan. Pihaknya juga menyiapkan cadangan lumbung masyarakat sebanyak 17 ribu ton. Menurut dia, cadangan lumbung merupakan usaha profit, diperjualbelikan. Berbeda dengan cadangan pangan yang kami berikan secara cuma-cuma. “Cadangan lumbung ini berada di pedagang, masyarakat, bulog, dan Pemprov DIJ,” terangnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ Bambang peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan di DIJ, masih jauh lebih besar ketimbang peran komoditi bukan makanan. Hingga September 2015, angka garis kemiskinan makanan di DIJ sebesar 70,97 persen. Turun dari sebelumnya di periode yang sama sebanyak 71,42 persen . “Tapi perlu diakui, angka garis kemiskinan makanan di DIJ pada tahun ini turun,” jelas Bambang.

Penurunan garis kemiskinan makanan itu, jelas Bambang membuat desa rawan pangan yang ditetapkan BKPP DIJ tiap tahunnya juga berkurang. Pada 2014, sebanyak 26 desa, sementara pada 2013 sebanyak 62 desa. (pra/din/ong)