JOGJA-Meskipun sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan internasional, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ternyata belum masuk agenda di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkeraf).

Nah, baru 2017 mendatang, PBTY akan ikut dipromosikan kementrian yang menangani pariwisata itu ke kancah internasional. “Karena terkendala komunikasi yang kurang intensif antara pemkot dengan pemprov, PBTY tidak masuk,” ujar Kepala Seksi Obyek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ Wardoyo, kemarin (15/2).

Wardoyo menjelaskan, dengan usaha saat ini, pihaknya mendapatkan garansi dari Kemeparkeraf tahun depan PBTY masuk agenda sebagai destinasi baru. Ini merupakan kabar menggembirakan, mengingat penyelenggaraan PBTY yang sudah ke sebelas kali. “Kami sangat apresiatif. Apalagi, Kampung Ketandan masuk dalam salah satu kawasan Pecinan yang akan direvitalisasi,” tambahnya.

Selama ini, Kemparkeraf, baru memasukkan delapan daerah. Yakni Jakarta, Bogor, Singkawang, Pematang Siantar, Kepulauan Riau, Semarang, Banda Aceh, dan Solo. “Kami juga heran. Karena Cap Go Meh yang terbesar di Indonesia di Singkawang hanya sehari diselenggarakan. Sementara PBTY sepekan,” lanjutnya.

Ketua Umum PBTY Tri Kirana Muslidatun menambahkan, PBTY memiliki konsep yang jauh berbeda. PBTY lebih lama yakni selama lima hari penuh. Sedangkan daerah lain hanya satu hari. Ini belum dari dari sisi jenis kegiatan yang lebih semarak dan beragam. “Selama ini PBTY juga sudah banyak menyedot wisatawan. Mereka yang akan merayakan Cap Go Meh, biasanya meluangkan waktu ke Jogja,” tambahnya.

Ana, sapaan akrabnya, mengakui, selama sepuluh tahun menggawangi pelaksanaan PBTY, kualitas kegiatan selalu ditingkatkan. Itu terutama menyangkut penguatan simbol akulturasi budaya yang mampu menyatukan beragam paguyuban Tionghoa maupun dengan masyarakat lokal di Jogja. “Panitia tidak didominasi warga Tionghoa. Begitu juga pengunjungnya yang justru mayoritas dari warga lokal,” tandasnya.

Ketua Paguyuban Fuqing Jogja Jimmy Santoso menambahkan, pencetus PBTY merupakan wujud akulturasi budaya. Ini diperkuat dengan pencetus PBTY yang malah bukan keturunan Tionghua. Ia adalah Prof Murjiyati, Guru Besar Pertaninan UGM yang kala itu hendak membuat buku resep masakan Cina. ” Dari ide itu lantas kami angkat menjadi PBTY ini. Apalagi Kota Jogja ini merupakan City of Tolerance. Sesuai keinginan gubernur dan wali kota Jogja saat itu,” katanya.

Agenda PBTY tahun ini akan mulai 18-22 Februari 2016 di Kampung Ketandan. Wilayah ini sejak zaman dulu menjadi tempat warga keturunan Tionghua bermukim. “Saudara-saudara keturunan Tionghua, di Semarang awalnya tinggal di sana,” tandasnya. (eri/din/ong)