JOGJA-Angin kencang di musim penghujan saat ini tidak hanya mengancam para nelayan. Warga yang berada di tengah kota pun mengalami ancaman. Salah satunya adalah pohon-pohon besar yang bisa tumbang sewaktu-waktu jika ada angin kencang.

Berdasarkan catatan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja, ada 70 pohon besar yang rawan tumbang saat ini. Pohon-pohon tersebut merupakan pohon perindang. Dan posisinya berada di pinggir-pinggir jalan protokol. “Ada yang di Jalan Jenderal Sudirman, Kotabaru. Di sekitar Stadion Mandala Krida, dan jalan-jalan lain,” ujar Kepala BLH Kota Jogja Suyana, kemarin (16/2).

Ia mengungkapkan, 70 pohon besar itu memang sudah berumur. Rata-rata lebih dari 12 tahun. Kini, BLH mengantisipasi pohon-pohon itu tumbang. Secara berkala mereka melakukan pemangkasan terhadap ranting-ranting pohon.

“Selalu kami identifikasi. Perkembangannya, mana saja yang harus segera dipangkas. Seberapa pemangkasannya. Kalau sudah sangat rawan ya dipotong sekalian,” jelas mantan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian ini.

Ia mengungkapkan, pohon-pohon tersebut tak bisa begitu saja dipangkas habis. Sebab, selama ini fungsi pohon tersebut juga menjaga kondisi udara. Terlebih, pohon yang menghisap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen.

“Untuk kenyamanan, tidak bisa semuanya dipangkas. Tetap dipertahankan untuk menjaga lingkungan dan sirkulasi udara dari asap kendaraan,” tambahnya.

Khusus mengenai pepohonan ini, BLH sebenarnya juga mengantisipasi pohon milik masyarakat. Atau pohon yang masuk persil pribadi. BLH memiliki tim untuk membantu memangkas pohon-pohon tersebut. “Ada juga dari SPBMA yang membantu untuk pemangkasan,” imbuhnya.

Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengimbau masyarakat waspada dan menghindari pohon-pohon besar jika terjadi hujan deras disertai angin kencang. Dia juga mengimbau masyarakat yang memiliki pohon yang membahayakan, seperti sudah besar dan tinggi untuk berhati-hati. “Sebaiknya dikepras supaya tidak menimbulkan masalah,” kata HB X kemarin (16/2).

Menurut dia saat terjadi perubahan musim patut menjadi kewaspadaan, karena di DIJ itu mayoritas angin itu dari pantai Selatan, saat ke utara ada Gunung Merapi dan Merbabu, ke timur ada Pegunungan Seribu, ke barat ada
pegunungan Menoreh. “Berarti angin di DIJ itu mesti muter sehingga disebut puting beliung,” jelasnya.

Selama beberapa hari terakhir, cuaca sore hari di Jogjakarta memang berubah drastis. Hujan yang disertai dengan angin kencang kerap terjadi. Berdasarkan perkiraan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta kecepatan angin bisa mencapai 25 kilometer per jam saat siang hari. “Pada sore hari bisa meningkat,” kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Joko Budianono.(eri/pra/din/ong)