BANTUL – Lima belas pendaki mengalami kendala ketika mendaki Gunung Merbabu. Tiga belas orang merupakan mahasiswa Binus Tangerang, sedangkan dua di antaranya adalah warga Bantul, Jogjakarta. Kini, mereka sudah turun lewat Samiran, Selo, Boyolali.

Dari informasi yang dihimpun Radar Solo (Jawa Pos Group), diketahui belasan pendaki tersebut sempat mengadukan keadaan darurat ke SAR Bantul. Informasi itu lantas diteruskan kepada SAR Boyolali pada Selasa malam (16/2).

Tim SAR Boyolali yang mendapatkan informasi dari SAR Bantul langsung melakukan reaksi cepat dengan menyisir Gunung Merbabu dari Pos Pendakian Selo. Setelah dilakukan penyisiran, tim SAR akhirnya menemukan belasan pendaki itu dalam kondisi selamat di kawasan Sabana I sekitar pukul 03.00 WIB, Rabu dini hari (17/2).

“Tak ada yang sakit atau membutuhkan pertolongan. Mereka hanya merasa kedinginan saja,” jelas Kepala Tim SAR BPBD Boyolali Kurniawan Fajar Prasetyo.

Yoyok, sapaan Kurniawan Fajar Prasetyo mengatakan, belasan pendaki asal Bantul itu tidak dalam keadaan darurat seperti yang diinformasikan sebelumnya. Mereka hanya tak biasa dengan cuaca Gunung Merbabu. Terlebih suhu saat ini sedang ekstrem. Ada kemungkinan, mereka yang mendaki adalah pendaki pemula.

Dengan kasus ini, diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi pendaki lain. Sebaiknya, bagi pendaki, terutama yang pemula, harus melakukan persiapan matang demi keselamatan. “Selain itu semestinya juga harus lapor. Karena informasi yang kami terima, mereka juga tidak melaporkan kegiatan pendakian itu,” ungkapnya.

Tim SAR BPBD Boyolali, lanjut Yoyok, mengimbau pendaki yang hendak ke Gunung Merapi maupun Merbabu didukung dengan perlengkapan memadai. Sehingga tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Jangan sampai mendaki, dan malah menyusahkan orang lain,” jelasnya.

Dari informasi yang diterima, disebutkan belasan pendaki asal Bantul itu melakukan pendakian dari base camp Selo, Selasa (16/2). Namun, mereka tak melaporkan kegiatan pendakiannya ke pos yang semestinya. Kemudian malam harinya, belasan pendaki itu mencoba menghubungi SAR Bantul, karena ada pendaki yang membutuhkan pertolongan atau dalam keadaan darurat.

Di saat yang bersamaan, cuaca di sekitar Gunung Merbabu kurang mendukung karena hujan, dan terjadi badai. Sesaat setelah berhasil mengontak SAR Bantul, belasan pendaki itu tiba-tiba lost contact. Dari situ, SAR Bantul lalu melanjutkan informasi ke SAR Boyolali.

Sementara itu, orang tua mahasiswa asal Bantul, Kwintarto Heru Prabowo membenarkan, kedua anaknya Aswindo Pradana, 22, dan M. Gema Ramadan, 19, memang mendaki Gunung Merbabu.

Mereka bersama bersama 13 rekan mahasiswa Binus Tangerang berangkat Selasa sekitar pukul 06.00 WIB. Mereka ingin mengisi waktu libur perkuliahan.

“Mereka teman kampus Ridho, anak pertama saya. Lha Ridho ngajak adiknya, Ramadan, yang sudah berpengalaman mendaki,” ujar Kwintarto ditemui kemarin.

Kwintarto sendiri mengetahui kabar anak-anaknya dari komunikasi HT. Kwintarto menuturkan, dari informasi yang diperolehnya, Ramadan bersama dua temannya sempat naik lebih ke atas untuk mendirikan tenda. Sementara sang kakak, bersama sebelas pendaki lainnya masih di bawah, tepatnya berada di sekitar posko 3.

Tak lama kemudian, di sana diguyur hujan deras. Ketiga pendaki ini pun menyampaikan kondisi mereka. “Lewat komunikasi HT. Mereka juga mengaku kedinginan,” ucapnya.

Komunikasi via radio HT antarpendaki ini didengar beberapa pihak. Kemudian, tersebarlah informasi perihal 15 pendaki Gunung Merbabu yang tersesat.

Menurutnya, informasi yang tersebar bertujuan baik. Hanya, informasi ini menjadi heboh. Tak sesuai dengan kondisi di lapangan. “Mereka dievakuasi dan dibawa ke bawah,” jelasnya. Kwintarto menyampaikan, dia intens berkomunikasi dengan kedua anaknya melalui ponsel. Dari komunikasi itu diketahui, kemarin petang kedua anaknya bersama tiga belas rekannya dalam perjalanan pulang ke Bantul. (zam/wid/ila/ong)