SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
 
KULONPROGO – Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogjakarta di Pengasih, Kulonprogo, mendapat titipan satwat liar baru. Setidaknya ada 20 satwa dilindungi yang akan menetap di sana. Satwa-satwa itu antara lain satu ekor binturong, satu bayi beruang madu, dan seekor anak lutung. Ada pula satu elang bondol hitam, dua belas anak merak, dan tiga ular sanca bodo.

Semua satwa itu akan menjalani konservasi di WRC sebelum dikembalikan ke habitat aslinya. Dua puluh satwa itu merupakan barang bukti sitaan kasus perdagangan gelap satwa liar dilindungi yang diungkap Bareskrim Mabes Polri didukung Polda DIJ dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ.

Mekanisme pengamanan barang bukti (satwa liar) diperlakukan sesuai dengan regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Barang bukti satwa liar dititipkan di lembaga konservasi yang memang sudah ditunjuk oleh pemerintah sebagai tempat penitipan. Untuk di DIJ, lembaga konservasi yang ditunjuk yakni WRC Jogjakarta di Pengasih, Kulonprogo.

Dir Tipiter Bareskrim Mabes Polri Brigjend Pol Drs Yazid Fanani menjelaskan, pihaknya didukung BKSDA dan Polda DIJ telah mengamankan dua terduga kasus perdagangan gelap satwa dilindungi. Berikut juga diamankan barang bukti yang kini dititipkan di WRC.

“Penindakan ini menjadi salah satu upaya mendukung program dan komitmen dunia dalam melakukan perlindungan satwa langka yang sudah semakin sedikit di habitatnya,” terang Yazid saat jumpa perd di WRC Pengasih, Kulonprogo, kemarin (17/2).

Dijelaskan, kedua tersangka ditangkap di lokasi yang berbeda. Tersangka MZ ditangkap Senin (8/2) sekitar pukul 15.00 WIB di tempat tinggalnya di Dusun Karang Singosaren 3, Bantul. Hasil pengembangan, kembali diamankan tersangka HN yang merupakan pembeli pada Kamis (11/2) sekitar pukul 14.30 WIB di Parkiran Marga Satwa Semarang.

Keduanya terlibat tidak pidana menyimpan, memiliki, memperdagangkan, dan mengangkut satwa dilindungi sebagaimana diatur dalam Pasal 21 Ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman hukumannya lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 100 juta.

Yazid mengatakan, berdasarkan keterangan tersangka MZ, salah satu barang bukti berupa seekor bayi beruang madu telah dibeli tersangka HN dengan pembayaran uang muka Rp 2 juta via transfer. Kemudian dilakukan pelunasan sebesar Rp 4,5 juta.

“Tersangka HN tidak bisa mengelak saat ditangkap, karena tertangkap tangan tengah melakukan pelunasan berikut barang bukti bayi beruang madu di tangannya,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan kedua tersangka, pada bulan Januari 2016 tersangka HN juga pernah membeli burung julang emas senilai Rp 750.000 dari tersangka MZ. Pembelian satwa ini alasannya untuk melengkapi koleksi satwa di Taman Marga Satwa Semarang.

Menurut Yazid, proses pengungkapan kasus ini cukup sulit, karena tersangka melakukan transaski melalui media online. Modus yang digunakan, tersangka MZ menawarkan barangnya di dunia maya. “Temuan ini sekaligus menjadi temuan yang kesekian kali, hasil kerja sama sejumlah pihak,” ujarnya.

Dijelaskan, pengungkapan kasus semacam ini memang harus secara holistik, tidak bisa secara parsial. Dengan begitu, semua pihak harus ikut berperan aktif. Penindakan ini sangat dibutuhkan karena mengancam satwa yang hampir punah.

Yazid menambahkan, penindakan ini diharapkan menjadi efek jera bagi pelaku, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali. Pekan lalu, pihaknya juga sempat melakukan pemusnahan barang bukti sitaan berupa kulit harimau dan buaya, termasuk aksesori dari kulit dan tulang harimau. “Bersama BKSDA kita juga memusnahkan kerapas penyu, dan tanduk rusa,” ungkapnya.

Diungkapkan, modus operandi dalam kasus perdagangan satwa liar dilindungi sangat beragam. Terlebih jaringannya sudah taraf nasional dan internasional dengan menggunakan media online. Bareskrim Polri juga menjalin kerja sama dengan negara lain untuk menangkap pelaku dari luar negeri.

“Tipologi kejahatan ini biasanya tertutup atau tersembunyi, maka perlu keterlibatan semua orang, tidak hanya pemerhati satwa saja,” katanya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ Ir Ammy Nurwati, MM mengungkapkan, pihaknya memberikan apresiasi tinggi kepala kepolisian. Sebab, BKSDA sebagai salah satu UPT dari Kementerian LHK sangat terbantu dalam menjalankan fungsi tugas konservasi satwa liar dilindungi.

“Dalam kasus ini, BKSDA berkewajiban melakukan perlindungan dan pengamanan satwa liar sitaan di wilayah kerja BKSDA Jogjakarta,” ungkapnya.

Pihaknya juga sudah berupaya melakukan sosialiasi dan pembinaan di tempat yang dimungkinkan menjadi titik transaksi jual beli. Tetapi yang sering terjadi barang bukti selalu hilang, dan akhirnya pelaku tidak tertangkap. Dengan strategi Mabes Polri yang tidak memberikan informasi awal, ternyata pelaku justru bisa tertangkap.

“Ini jelas sangat membantu kami, karena pelaku ini memiliki jaringan yang wilayah kerjanya tidak hanya di DIJ,” katanya lagi. (tom/ila/ong)