SLEMAN – Satu tersangka dugaan penculikan terhadap dokter Rica Tri Handayani kembali ditangkap. Sebelumnya Polda DIJ menetapkan Eko dan Veni sebagai tersangka penculikan istri Aditya Akbar Wicaksono itu. Tersangka ketiga ini disebut memiliki posisi strategis dalam Gafatar.

Kapolda DIJ Brigjen Pol Erwin Triwanto menjelaskan, penangkapan terjadi beberapa pekan lalu itu. Tersangka yang diduga menjadi otak penculikan dokter Rica ini inisial S. Penangkapan bermula dari pesan singkat yang berhasil dibuka polisi dari ponsel Eko dan Veni. Di dalamnya ada komunikasi terkait dibawa kaburnya dokter muda asal Lampung itu. “Jadi yang bersangkutan kami yakini menjadi bagian dari kelompok yang melakukan tindakan penculikan,” katanya.

Ia juga meyakini tersangka terlibat dalam pelarian dokter Rica. Sebab selain adanya komunikasi di SMS tersangka juga diperkuat keterangan pelaku sebelumnya. “Pengurus Gafatar Jateng dan nasional. Dikenakan pasal penculikan dan sudah ditahan,” katanya.

Wadir Reskrimum Polda DIJ AKBP Djuhandani mengatakan, tersangka S ditahan kaitannya turut serta membantu mengendalikan perjalanan dr Rica, Veni dan Eko ke Kalimantan. Hal itu juga membuktikan hilangnya dr Rica terkait Gafatar.

Setelah tertangkapnya S, dia memastikan kasus menghilangnya beberapa orang sebagiannya memang dikendalikan Gafatar. Dengan bukti-bukti yang ada dan penyelidikan lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan menjerat para tersangka dengan pasal penodaan agama. “Tersangka S ditangkap di Sagan, Kota Jogja saat dalam pengejaran ke Jawa Tengah dan sekitarnya,” jelasnya.

Menruutnya, peran S dalam struktur Gafatar, yaitu setara dengan wakil bupati. Hal itu dapat dibuktikan saat Eko dan Veni melaporkan perjalanan dan bentuk administrasi serta biaya yang diperlukan dilaporkan kepada Sigit. “Ke depan akan terus kami upayakan penyidikan berkaitan laporan polisi yang terjadi. Ada yang di Mabes Polri, Mempawah, dan Polda DIJ kasusnya berbeda-beda,” katanya.

Kepada tersangka S, polisi menerapkan Pasal 332 dan 328 KUHP tentang penculikan. Namun tidak menutup kemungkinan bisa pula mengarah pada penistaan agama. “Dilihat dari struktur dan barang bukti mengarah penistaan agama, tapi masih kami kembangkan dan koordinasi. Tidak hanya berhenti di Pasal 332,” jelasnya.

Selain S, polisi juga sudah mengantongi struktur organisasi Gafatar. Termasuk pimpinan di Sleman dan DIJ. Polisi masih monitor dan melihat perannya masing-masing. “Kalau kasus makar unsur-unsurnya harus terpenuhi. Masih terus berkembang dan penyidikan berjalan gabungan Bareskrim Polri di Jateng dan Jatim dan berhasil menguak pidana Gafatar,” tandasnya. (riz/din/ong)