SETIAKY A. KUSUMA/ RADAR JOGJA

SLEMAN – Tingginya intensitas hujan yang turun pada Rabu (17/2) kemarin sekitar pukul 15.30 WIB menyebabkan banjir lahar hujan di aliran Sungai Gendol, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Banjir juga menyeret dua mobil yang sedang melintasi kawasan tersebut.

Pengemudi armada angkutan L 300 dengan pelat nomor AA 1922 YK yang ikut terseret arus Wignyo Sutarjo, 60, menyebutkan, saat kejadian, dia hendak mengangkut batu nisan pesanan sebanyak empat buah. Namun, saat menyeberangai Sungai Gendol, tiba-tiba terjadi banjir lahar hujan dan menghanyutkan mobilnya.

“Saya langsung mematikan mesin dan keluar dari kaca samping. Waktunya cepet banget, untung masih sempat keluar,” ujarnya saat ditemui di sela-sela evakuasi mobilnya, Kamis (18/2).

Dia menyebutkan, hampir 1,5 jam lamanya banjir lahar hujan berlangsung. Wignyo mengaku merasa bersyukur masih bisa selamat. Namun demikian, dia merasa bingung karena kehilangan pekerjaan. Itu belum termasuk mobilnya yang rusak parah dan hanya menyisakan mesin mobil serta roda yang ala kadarnya.

Dia tidak bisa berbuat banyak selain merelakan mobilnya ringsek dan terendam material pasir Gunung Merapi setinggi kurang lebih tiga meter. Saat evakuasi dilakukan, puluhan warga harus menggalinya terlebih dahulu, kemudian ditarik dengan mobil Jeep dan dievakuasi ke bengkel terdekat. Evakuasi memakan waktu hampir lima jam.

Wignyo ternyata tidak sendirian. Dalam peristiwa banjir lahar hujan Rabu kemarin, juga turut hanyut dan ringsek sebuah truk pengangkut pasir berpelat AB 9635 QE. Saat kejadian, mobil tersebut dikemudikan oleh Giri, warga Dusun Batur, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Namun, beruntung, dalam peristiwa itu tak ada korban jiwa, termasuk Giri yang berhasil keluar sebelum terseret arus. “Pasrah saja ya mau gimana lagi,” ujarnya singkat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono meminta warga yang berada di bantaran aliran sungai yang berhulu di Merapi meningkatkan kewaspadaan. Sebab, ancaman banjir lahar hujan masih mengancam di sejumlah sungai terutama Gendol dan Opak.

Lahar hujan mengalir di sungai yang berhulu di Merapi. Sungai-sungai tersebut yakni Krasak, Boyong, Gendol, Opak, dan Kali Kuning. Yang paling terancam bahaya adalah warga yang tinggal di bantaran sungai itu. Jarak aman, minimal 300 meter dari bibir sungai.

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di dua sungai itu. Bila terlihat langit sudah mendung lebih baik segera mencari tempat yang aman,” ujarnya, kemarin (18/2).

Juli, sapaannya, menjelaskan, masa intensitas hujan di puncak Merapi masih tinggi, ancaman banjir lahar hujan dapat terjadi sewaktu-waktu. Sebab, masih ada sekitar 25 juta kubik material pasir Merapi yang ada di puncak.

“Memang alur aliran sungan sudah baik. Tetapi, jika diguyur hujan terus-menerus maka material Merapi yang ada di pucak akan jenuh dan turun ke bawah. Kami tidak bisa memprediksi kapan itu terjadi,” jelasnya.

Mengenai dua kendaraan yang hanyut di Sungai Gendol, Juli menyayangkan masih ada aktivitas penambangan. “Itu bukan kewenangan kami mengatur penambangan. Tapi, saya minta warga lebih hati-hati,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan early warning system (EWS) yang ada di sejumlah titik tidak bisa dijadikan acuan. Sebab, terjadinya banjir lebih cepat dari sinyal yang diberikan EWS. “Terkadang hanya butuh waktu 15 menit dari sinyal peringatan, tiba-tiba banjir sudah datang,” tandasnya. (riz/bhn/ila/ong)