JOGJA – Eliminate Dengue Program (EDP) yang sudah diujicobakan UGM di wilayah Sleman, diharapkan bisa dilaksanakan di Kota Jogja. Program menyebarkan nyamuk Aedes Aegypti yang sudah terpapar bakteri Wolbachia tersebut dinilai bisa mengurangi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Kan sudah diteliti, jadi harus bisa segera diterapkan. Saya berharap program itu bisa dilakukan di Jogja,” kata Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X di Kepatihan, belum lama ini (16/2). Dari hasil pelepasan nyamuk Aedes Aegypti di Sleman tidak ditemukan terjadinya penularan DBD antarwarga. Hal itu, menurut HB X, menjadi tanda sudah saatnya metode itu dimanfaatkan secara maksimal.

Terkait kemungkinan penolakan dari warga, suami GKR Hemas tersebut mengatakan, tidak masalah selama sosialisasi tepat. HB X mencontohkan, saat akan diujicobakan di Sleman, pada awalnya juga mendapat penolakan, tapi akhirnya bisa menerima. Hasilnya sudah terbukti dengan tidak adanya warga yang tertular DBD.

“Kalau penolakan kan tinggal bagaimana menyosialisasikannya. Yang penting kan sudah ada hasilnya dan baik,” tandasnya.

Terpisah, Peneliti Sosial EDP DIJ Bekti Andari mengakui hasil positif yang didapat di Sleman. Tapi, lanjut dia, misi sebenarnya dari pelepasan nyamuk di Sleman adalah untuk mengetahui kemampuan bertahan hidup dan pennularan antarnyamuk dari nyamuk yang sudah terinfeksi
Wolbachia. “Saat ini masih tahap awal,” ungkapnya.

Untuk diketahui Wolbachia adalah bakteri yang secara alami hidup di badan lalat buah. Lalat buah yang terpapar bakteri ini akan memiliki masa hidup yang pendek. Sementara nyamuk Aedes Aegypti yang menyebarkan virus dengue adalah nyamuk berusia tua. Berdasarkan temuan itu, peneliti mencoba memasukkan bakteri itu ke tubuh nyamuk sehingga nyamuk penyebar DBD mati sebelum bisa menyebarkan virus dengue.

Meskipun tahap awal bukan untuk melihat kemampuan mencegah penyebaran DBD, Bekti mengatakan, dari program tahap pertama itu mereka mendapatkan hasil sampingan. Pelepasan nyamuk berbakteri ternyata mampu menekan penularan DBD antarwarga di lokasi yang sama.

Hal itu bisa menjadi data awal yang menunjukkan program mereka mulai menuai hasil sesuai harapan. “Temuan kami tidak ada penularan DBD antarwarga di radius 100 meter dari area pelepasan nyamuk,” kata Bekti. (pra/ila/ong)