ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA
 
JOGJA – Event memperingati Imlek di Jogja resmi dibuka Gubernur Hamengku Buwono (HB) X, tadi malam (18/2). HB X berharap Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) bisa berlangsung lebih lama. Mengingat event ini telah menjadi daya tarik wisatawan.

“Penyelenggaraan PBTY sudah berlangsung sejak 2006. Waktu pelaksanaannya perlu lebih lama lagi,” saran HB X yang datang bersama dengan cucunya.

Selama ini PBTY telah banyak mendapatkan pengakuan. Bahkan, pemerintah daerah lain belajar ke PBTY untuk bisa menggelar event serupa. “Pelaksanaan PBTY mampu menginspirasi daerah lain,” katanya.

Terlebih, dengan tren saat ini, banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar budaya Tionghoa. Apalagi, saat ini budaya Tionghoa menjadi bagian dari kekayaan Nusantara. “Event seperti ini harus didukung,” jelasnya.

HB X berharap, PBTY bisa makin semarak, bahkan bisa menambah ikon wisata budaya Kota Jogja. “Sebagai kota budaya, bisa menjadi ikon budaya,” tandasnya.

Ketua Umum PBTY Tri Kirana Muslidatun mengatakan, PBTY ini bukanlah bagian dari agama. PBTY merupakan kebudayaan dalam merayakan Imlek. Inilah yang menjadikan penyelenggaraan ke sebelas ini menampilkan seni dan budaya Nusantara. Jadi tidak hanya budaya tradisi Tionghoa saja.

“PBTY dapat menjadi ajang akulturasi budaya. Lebih jauh dapat memberikan kontribusi positif bagi kunjungan wisatawan ke Jogja,” ucapnya.

Pada perayaan PBTY yang berlangsung 18-22 Februari ini akan ada 15 barongsai yang dimainkan setiap hari di panggung kesenian Ketandan. Juga pertunjukkan wayang po tay hee (potehi), pernak-pernik ala Tionghoa, dan festival makanan.

Untuk puncak acara akan dipertunjukan naga batik sepanjang 159,5 meter yang dimainkan oleh 250 orang pada Minggu (21/2) malam di sepanjang Jalan Malioboro sampai Alun-Alun Utara. Pada pembukaan, diawali dengan penampilan liong serta barongsai dari grup Naga Putra Mataram. Ornamen dan interior yang dipasang dalam gelaran PBTY kali ini masih didominasi warna merah. (eri/ila/ong)