Bedakan Hitam-Putih, Pion Ditempel Manik-manik

Profesi pria asal Dusun Candi, Sidomulyo, Secang ini memang banyak digeluti orang lain. Namun, berkat keahliannya membuat papan catur khusus penyandang tunanetra, Muchammad Sururi mampu mengukir prestasi tingkat nasional.

ADI DAYA PERDANA, Mungkid

Ide dan kreativitas mahal harganya. Ungkapan tersebut cocok dilekatkan bagi segelintir orang yang memiliki jiwa seni dan entrepreneur. Salah satunya Muchammad Sururi. Hasil kreasi perajin kayu 53 tahun itu bukan saja menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya. Hanya memanfaatkan bahan kayu seadanya, Sururi mampu menciptakan karya cipta bernilai artistik.

Sehari-hari Sururi bisa membuat beberapa papan catur berikut set pionnya. Profesi yang dilakoninya sejak 1980-an semata-mata meneruskan usaha yang dirintis ayahnya. Butuh perjuangan hingga Sururi bisa mencapai hasil seperti sekarang. Berkat ketekunannya selama kurang lebih 18 tahun, usaha membuat papan catur mulai menunjukkan hasil signifikan.

Tahun 1998 dianggapnya sebagai titik puncak usahanya.

“Saat itu, saya menerima 10 ribu pesanan papan catur dari seorang eksportir ditujukan ke Amerika,” katanya saat berbincang dengan Radar Jogja kemarin (19/2).

Mendapat tawaran tersebut, Sururi tak mau buang waktu. Dia segera menyiapkan bahan-bahan utama. Berupa kayu pohon sawo dan waru. Ada tiga variasi ukuran papan yang dia garap.

Setiap set papan catur berukuran luas 50 sentimeter persegi dibanderol Rp 90 ribu. Sedangkan, ukuran 36 sentimeter persegi Rp 15 ribu dan papan seluas 40 sentimeter persegi dipatok Rp 22.500.

Untuk meningkatkan talenta bisnisnya, Sururi tak mau hanya diam dan menunggu pesanan. Dia aktif mengikuti berbagai pelatihan wirausaha. Dari situ, muncullah ide-ide kreatif untuk menunjang karya agar tak monoton. Salah satunya membuat papan catur untuk orang berkebutuhan khusus. Maka, terwujudlah papan catur bagi tunanetra. Nah, berkat inovasi itu, Sururi berhasil menorehkan prestasi dalam lomba kewirausahaan. Diantaranya, juara I Wirausaha Mikro Favorit Pilihan Masyarakat yang diselenggarakan Universitas Indonesia dan salah satu bank nasional. Selain itu, juara II Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan Terbaik. Hadiah uang sebesar Rp 15 juta yang diterimanya kala itu tak mudah dilupakan Sururi.

Meskipun bukan uang itu yang membuatnya sulit melupakan prestasi yang diraih. Tapi efek domino setelah dirinya mendapat predikat wirausahawan berprestasi.

Seiring namanya yang makin dikenal publik sebagai perajin papan catur, Sururi mendapat tantangan membuat set papan catur khusus penyandang tunanetra. Tantangan itu membuatnya berpikir berulang kali, hingga akhirnya dia menyatakan sanggup. Tak tanggung-tanggung, saat itu, sekitar 2005, Sururi mendapat pesanan 500 unit papan catur tunanetra.

“Coba-coba dulu awalnya. Saya sempat bingung saat mendapat pesanan papan catur bagi orang tunanetra,” kenang bapak tiga anak itu
Ujicoba dilakukan berkali-kali hingga muncul gagasan menggunakan manik-manik dan pinus. Dua bahan itu untuk menandai biji catur hitam dan putih. Pion hitam ditempel lebih banyak tonjolan, sedangkan biduk putih ditandai dengan cekungan.

Belakangan, pesanan papan catur tunanetra semakin banyak. Permintaan konsumen turut mempengaruhi bentuk pion. Saat ini lebih banyak konsumen meminta pion tak diberi manic-manik karena cepat rusak. Nah, untuk membedakan warna, Sururi membuat pion hitam berbentuk persegi. Selain bentuknya dibuat berbeda, Sururi memasang sumbu dari bahan kayu di bagian bawah pion. Sumbu berfungsi sebagai tancapan pion di papan catur yang sudah dibuat berlubang. Sementara, di sisi kanan dan kiri catur juga ditempel huruf-huruf braile yang berfungsi memudahkan seorang tunanetra menandai langkah. Untuk memainkannya tak ada perbedaan aturan dengan catur pada umumnya.

Sururi mematok harga Rp 250 ribu untuk set papan catur tunanetra ukuran 50 x 50 cm. Memang lebih mahal dibanding papan catur biasa. Itu karena selain lebih rumit pembuatannya, bahan yang dibutuhkan juga lebih banyak.

“Pasaran saya banyak di Jogja,” ungkap Sururi yang bangga hasil karyanya bermanfaat bagi kaum tunanetra.(yog/ong)