Genta Buwana/Radar Jogja

Ger-geran sambil Menikmati Tongseng dan Durian Kalibawang

Jalinan relasi atau hubungan pertemanan itu memiliki dua opsi pasang surut. Opsi pertama berkembang renggang dan tidak baik, dan opsi kedua berkembang baik menjadi jalinan silaturahmi yang erat, hingga menjadi semacam persaudaraan yang saling menguntungkan. Radar Jogja dan Pemkab Kulonprogo, nampaknya ada di opsi kedua.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

KEMARIN sore (19/2), lokasi wisata Dolandeso Boro, di Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, menjadi saksi hubungan erat antara Jawa Pos Radar Jogja dengan Pemkab Kulonprogo. Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo secara khusus mengundang jajaran koran ini untuk bercengkrama dan bersilaturahmi di lokasi yang cukup asri, menarik dan banyak dikunjungi wisatawan itu.

Perbincangan ringan namun penuh makna terpapar dalam pertemuan itu. Apalagi, menu makanan yang disaikan sangat spesial, mulai sayur lompong, ayam goreng, sate hingga tongseng dan tengkleng kambing. Ditambah buah durian enak asli Kalibawang.

Diselingi canda tawa lepas, orang nomor satu di Kulonprogo ini banyak memberikan apresiasi atas jalinan kerja sama yang selama ini terbina baik.

Layaknya pertemuan besar, awalnya lepas dari dugaan teman-teman Radar Jogja. Tapi, ternyata memang acara yang berlangsung akrab itu sudah direncanakan matang oleh Pak Dokter Hasto, sapaan akrab Bupati Kulonprogo.

Karena acara itu juga melibatkan beberapa pihak, seperti Kapolsek Kalibawang Kompol Suharto, Danramil Kalibawang Kapten Inf Nur Hadi Wijaya, Camat Kalibawang Setiawan Tri Widada, Kabag Humas dan TI Kulonprogo Rudy Widiyatmono, bahkan Kabag Umum Setda Kulonprogo Bowo Pristiyanto juga ikut sibuk mempersiapkan segala cara yang digelar.

Bupati Hasto mengatakan, Pemkab Kulonprogo cukup pantas berterima kasih dengan jajaran Jawa Pos Radar Jogja karena selama ini selalu memberikan apresiasi terhadap Kulonprogo dan kepada dirinya.

“Oleh karena itu, atas nama pribadi dan seluruh warga masyarakat Kulonprogo, di samping mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Jawa Pos Radar Jogja dan seluruh jajaran Jawa Pos Group di seluruh Indonesia, karena semua ini berkat dukungan teman-teman semua Kulonprogo mendapatkan suatu apresiasi dan spirit baru,” ucapnya.

Hasto berharap Kulonprogo ke depan akan semakin dikenal Kulonprogo-nya. Menurutnya, nama bupatinya tidak terkenal tidak apa-apa, tetapi nama Kulonprogo itu yang penting untuk dikenal luas. Dan, berkat teman-teman dari Jawa Pos Group pulalah Kulonprogo menjadi agak dikenal luas.

“Jadi kalau dulu saya ditanya, Pak Hasto itu bupati dari mana, saya jawab dari Kulonprogo. Malah yang tanya menangkap jawabannya dengan pertanyaan balik, apa bupati Ponorogo? Tetapi itu dulu, kalau sekarang ya lumayan, karena dengan pemberitaan banyak yang studi banding ke Kulonprogo,” selorohnya.

Diungkapkan, banyak daerah lain di Indonesia melakukan studi banding ke Kulonprogo. Salah satunya menanyakan tentang Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan Kulonprogo dikunjungi dari mana-mana itu juga berkat pemberitaan dari Jawa Pos Radar Jogja. “Termasuk ada demo bandara, kita juga terkenal, oh Kulonprogo penghasil demo, ada bandara. Ya Alhamdulillah,” selorohnya lagi.

Menurut Dokter Hasto, meskipun masih kecipratan getah-getah yang tidak nyaman karena produk pemberitaan, semua tetap disyukuri dan harus disikapi dengan arif dan bijak. Ini karena kritik membangun, dan kritik sosial itu sudah menjadi domain media dan di situlah fungsi media.

“Termasuk hari ini ada berita tidak nyaman terkait peredaran daging babi, itu juga sedikit menjadi catatan yang menyedihkan sebetulnya, tapi itu nyata ada. Termasuk berita LGBT itu, sekarang tengah diperbincangkan di mana-mana,” ujarnya.

“Tadi saya menyimak beberapa tempat khotbah Jumat temanya juga tentang LGBT. Usai mendengarkan khotbah, saya kemudian gantian khotbah, tentang transeksual, gay dan lesbi itu. Karena ada orang yang sebetulnya sejak awal memang sudah cacat, dan masuk ategori difabel karena tidak jelas alat kelaminnya. Namun dia kemudian dikategori transeksual, itu sebetulnya kurang pas. Harus diluruskan, besok saya akan tulis di rubrik Teh Celup,” ucapnya.

Terkait LGBT, dengan pemahaman sebagai dokter spesialis kandungan, sedikit dijelaskan sebetulnya ada orang yang lahir dengan kromosom XY dan seharusnya lahir menjadi laki-laki tulen. Namun kemudian dalam perjalanannya di dalam perut berkembang menjadi janin, janin itu terjadi gagal pertemuan gen atau kromosomnya.

“Kalau bibir gagal bertemu jadinya bibir sumbing. Kalau laki-laki memiliki alat vital bernama penis, gagal bertemu penisnya menjadi terbelah, bentuknya kemudian menjadi seperti alat kelamin perempuan. Nah orang tanya karena tidak paham akhirnya disangka perempuan,” terangnya.

Dikatakan, orang-orang yang seperti ini sebetulnya masuk kategori difabel dengan kelainan alat kelaminnya. “Namun ibunya saat anaknya lahir sudah terlanjut mengira itu perempuan, dibelikanlah baju perempuan, ditindik dan diberi kalung. Saat usianya 16 tahun, ternyata keluar jakunnya, suaranya bisa berubah-ubah perempuan namun juga kadang laki-laki. Akhirnya dia dianggap melakukan transeksual. Sama juga gendang telinganya tidak terbentuk sempurna menjadi menjadi tuli. Ini sama, dan itu harus dibedakan,” paparnya.

General Manager Radar Jogja Berchman Heroe mengungkapkan, segenap pimpinan dan karyawan Radar Jogja juga mengucapan terima kasih banyak kepada Bupati Hasto Wardoyo dan segenap jajaran Pemkab Kulonprogo maupun Muspika Kalibawang.

Matur nuwun sanget, kami tidak membayangkan acaranya begitu luar biasa,” ucap Heroe. Ia memaparkan, sebenarnya dalam pemilihan Jawa Pos Group (JPG) Award 2016 tidak sepenuhnya dari Radar Jogja. Karena penilaian itu dilakukan sekitar 250 koran Jawa Pos Group mulai dari Aceh sampai Papua, dan kebetulan Radar Jogja memang ada di antaranya.

“Jawa Pos itu grup media besar yang punya jaringan luas di daerah. Kami juga tidak mempromosikan Pak Hasto mendapat nominasi, tapi karena dari penilaian ribuan redaktur JPG se-Indonesia, dan beberapa ratus orang kepala daerah yang dipilih diseleksi menjadi 10 terbaik se Indonesia, Pak Hasto menjadi salah satunya,” paparnya.

Menyinggung jalinan kerja sama antara Pemkab Kulonprogo dan Radar Jogja, manajemen Radar Joga juga sangat pantas mengucapkan terima kasih kepada Bupati Hasto yang selalu bisa meluangkan waktu dan selalu ada untuk Radar Jogja.

“Sinergitas Pemkab Kulonprogo dengan jajaran Radar Jogja selama ini sangat baik. Silaturahmi juga terus terjalin, ada kerja sama yang saling menguntungkan untuk membangun Kulonprogo lebih baik ke depannya. Kulonprogo sudah menjadi cantolan hati kita (Radar Jogja) untuk digarap secara serius,” tandas Heroe.

Termasuk dengan keberadaan halaman Radar Menoreh yang mengabungkan dua kabupaten sekaligus dua provinsi yakni Kulonprogo (DIJ) dan Purworejo (Jateng), semoga bisa berjalan lancar. “Kita juga mendukung program megaproyek Pelabuhan Tanjung Adikarto untuk membukan lalu lintas perikanan dan perdagangan di laut selatan,” katanya.

Kabag Humas dan TI Rudy Widiyatmoko menambahkan, Radar Joga sudah memberi ruang yang baik bagi kemajuan Pemkab Kulonprogo. “Bbahkan Pak Hasto sendiri rutin menulis di Radar Jogja dengan rubrik Teh Celup di halaman Radar Menoreh, itu sangat menarik dan patut disimak. Tulisannya ringan, tetapi penuh makna dan menginsiprasi. Itu dikemas sangat baik oleh teman-teman Radar Jogja,” imbuhnya. (laz/ong)