KULONPROGO – Satreskrim Polsek Wates menetapkan Ss, 39, pedagang daging sapi di Pasar Bendungan, Wates, Kulonprogo sebagai tersangka dalam kasus penjualan daging babi. Tersangka terancam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Namun tersangka tidak ditahan dengan pertimbangan sedang hamil.

“SS ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini berdasarkan barang bukti dan hasil pemeriksaan,” kata Kasat Reskrim Polres Kulonprogo AKP Anton kemarin (19/2).

Anton melanjutkan, pihaknya sudah menyelidiki secara intensif terhadap tersangka. Hasil pemeriksaan, diketahui daging babi ini dipasok dari Bantul. Sampai kini, pemasok daging babi yang dicampur dengan daging sapi ini masih dalam proses pengejaran. “Saat ini, kami fokus memeriksa tersangka dulu,” katanya.

Kendati ditetapkan tersangka, penyidik belum akan melakukan penahanan. Karena yang bersangkutan dalam kondisi hamil serta beberapa pertimbangan lain. Selama pemeriksaan tersangka juga cukup kooperatif.

Sebelumnya, petugas Satreskrim Polsek Wates membongkar praktik perdagangan daging sapi dicampur babi hutan, Kamis siang (18/2). Pengungkapan juga melalui proses penyelidikan selama tiga bulan terakhir.

Saat digerebeg, petugas berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates. Dari kondisi daging, secara kasat mata ditengarai ada daging babi. Hasil sama saat dilakukan uji laboratorium.

“Polisi akan menindak tersangka dengan pasal berlapis. Baik menggunakan UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, maupun KUHP,” ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Kulonprogo Sudarno mengatakan, sudah rutin melakukan pengawasan. Termasuk mengambil sampel daging secara berkala. Bahkan, saat jelang Idul Fitri, porsi pengawasan lebih diintensifkan.

Ia mengakui, sejak awal tahun anggaran pengawasan belum maksimal. Karena pengawasan butuh anggaran. Sampel daging yang diambil harus tidak asal ambil, melainkan dibeli dari pedagang yang bersangkutan.

Pengawasan juga dilakukan terhadap produk olahan dari daging. Seperti bakso. Hasil pengawasan juga menentukan rekomendasi dan label halal. Dari pantauan yang dilakukan, indikasi menjual daging campur babi justru ditemukan di Nanggulan dan Samigaluh.

“Sedangkan Ss justru tidak pernah masuk dalam daftar pedagang yang diawasi,” jelasnya.(tom/hes/ong)