SLEMAN – Terbongkarnya pabrik pupuk oplosan di Kabupaten Bantul menguak celah distribusi pupuk urea bersubsidi di DIJ. PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sebagai yang berwenang menyalurkan atau operator distribusi mengaku kecolongan atas insiden tersebut.

Kepala Penjualan PT Pusri DIJ Bengat Subayu mengatakan, pihaknya akan lebih meningkatkan pengawasan terhadap distributor dan pemilik kios yang menjual pupuk urea bersubsidi. Pihaknya akan menyelidiki melalui asisten lapangan yang bertugas mengawasi alur distribusi pupuk bersubdisi dari pemerintah itu.

“Jika ada distributor dan kios resmi yang terbukti menyelewengkan, akan kami cabut izinnya. Pasti kita tindaklanjuti karena distribusi pupuk bersibsidi ini kan melayani petani,” kata Bengat Subayu kepada Radar Jogja, kemarin (19/2).

Bayu menyebutkan, pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap penyaluran pupuk bersubsidi sudah sangat ketat. Selain PT Pusri memiliki asisten lapangan, pengawasan juga dilakukan tim Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3). “KP3 ada dinas pertanian, dinas perdagangan, polisi, kejaksaan, koordinatornya asekda,” kata Bayu.

Pelaku, menurutnya, bisa jadi memanfaatkan celah yang ada dalam alur distribusi pupuk bersubsidi. Namun pihaknya juga berkoordinasi dengan kepolisian terkait hal itu. “Dengan bukti-bukti yang ada, tidak sulit menelusuri dari mana pupuk itu berasal. Sekarang TNI dan polisi mengawal penyaluran pupuk di Indonesia,” katanya.

Ia juga mengatakan, ketersediaan pupuk di DIJ masih akan mencukupi untuk dua bulan mendatang. Dari update terakhir stok pupuk di gudang Gunungkidul sebanyak 1.200 ton, gudang di Sleman untuk dua kabupaten yakni Sleman dan Bantul ada 2400 ton, dan gudang Kulonprogo 280 ton. “Setiap minggu selalu ada stok masuk, dalam sebulan bisa lebih dari 500 ton,” ungkapnya.

Ia membantah jika ada yang menyebut kelangkaan pupuk. Apabila ada petani yang mengatakan sulit mendapatkan pupuk, maka tinggal dicek apakah sudah terdaftar dalam kelompok tani yang mengajukan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). “Tahun 2016 yang dibantu dan disetujui 41.290 ribu ton pupuk urea dari sekitar 60 ribuan yang diusulkan,” katanya.

Dikatakan, harga pupuk urea nonsubsidi Rp 4.848 per kilogram, sedangkan pupuk subsidi Rp 1.800. Pupuk bersubsidi tidak dijual bebas, dan yang bisa memperoleh adalah kelompok tani yang terdaftar di RDKK. “Dari gudang per sak ukuran 50 Kg Rp 90 ribu,” jelasnya.

Alur penyaluran pupuk, terang Bayu, dari gudang ke distributor, lalu ke kios baru ke kelompok tani. Saat distributor mengambil ke gudang, harus disertai lampiran pembayaran melalui bank dan harus ada lampiran RDKK ke kepala gudang. “Di Sleman ada tiga distributor, Bantul empat distributor, Gunungkidul tiga, Kulonprogo dua dan Kota Jogja satu distributor,” terangnya. (riz/laz/ong)