PT Petrokimia menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan produk NPK tablet. Hal ini terkait dengan 1,8 pupuk ilegal yang disita oleh jajaran Polda DIJ.

“Kami tidak pernah memproduksi pupuk dalam jenis tersebut,” jelas Supervisor PT Petrokima DIJ Agus Ardiansyah saat dihubungi kemarin (19/2).

Agus memaparkan, Petrokimia mengedarkan empat jenis pupuk subsidi di kawasan DIJ meliputi empat jenis yakni ZA, SP36, NPK Ponska dan Petroganik. Sedangkan yang beredar, merupakan urea yang tercampur dengan NPK yang tidak diketahui dari mana asalnya.

Dia mengungkapkan, para pelaku sendiri merupakan pemain lama yang sudah melakukan kegiatan sejak 2013. Ditegaskan, para pelaku itu bukanlah jaringan distributor PT Petrokimia. Saat ini ada 220 penyalur resmi produk-produk Petrokimia.

“Kami punya pakta integritas. Produk-produk yang dijual sangat jelas. Bila melakukan penjualan di luar ketentuan, kami coret dari kerja sama,” jelasnya.

Dia menerangkan, Petrokimia telah memperketat pengendalian peredaran bahan pupuk. Ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan pupuk bersubsidi. “Pengendaliannya memang diperketat, dan sudah kami lakukan dengan menggunakan sistem,” jelasnya.

Pengendalian distribusi bahan kimia sendiri dilakukan setiap tahunnya. Proses bermula dari pengumpulan para pengedar di awal tahun. Di mana dalam kesempatan itu mereka harus menandatangani surat perjanjian jual beli (SPJB) dan pakta integritas.

“Setiap tahap distribusi tercatat dalam berita acara. Mulai dari penyerahan produk di gudang ke pengedar, hingga produk pupuk sampai ke tangan petani. Pencatatan ini pun berlangsung secara online,” jelasnya.

Selain itu, Agus mengemukakan, pengendalian melalui sistem yang terintegrasi dilakukan untuk mencegah penimbunan. Sehingga proses distribusi pupuk pada para petani dapat berjalan lancar.

Sedangkan bila ada kelangkaan pupuk, biasanya terjadi karena alokasi dari pemerintah lebih sedikit dibanding kebutuhan masyarakat. “Saat ini subsidi yang diberikan pemerintah tidak bisa 100 persen, hanya bisa mencukupi 65 persennya saja,” jelasnya.

Seperti diberitakan, Polda DIJ menyita 7,5 ton pupuk oplosan ilegal. Barang bukti yang diamankan berupa pupuk NPK tablet sebanyak 1,8 ton dari TKP 1 dan satu ton pupuk NPK tablet dari TKP 2.

Sementara dari pabrik atau TKP 3, barang bukti yang diamankan berupa 345 Kg pupuk NPK tablet, 4,3 ton pupuk urea bersubsidi, tujuh karung pupuk makro campuran penguat akar atau ZK, dan tiga karung penggembur tanah atau CSP-36.

Selain itu, polisi juga mengamankan dua unit mesin cetak pupuk NPK tablet, satu mesin diesel, dua unit las plastik, 10 ember besar berwarna hitam, dua pak plastik kemasan, dan 700 lembar karung bekas warna putih. (bhn/laz/ong)