SLEMAN- Manajemen RSUD Sleman terus bebenah. Setelah berhasil meraih akreditasi tahap paripurna, kini gedung baru pun siap beroperasi. Operasionl gedung setinggi lima lantai tersebut direncanakan per 1 Maret. Peresmian gedung baru direnanakan pada 24 Februari oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono. Di gedung terpadu, pelayanan pasien dipastikan lebih nyaman.

Direktur RSUD Sleman dr Joko Hastaryo merinci, lantai 1 difungsikan untuk poliklinik, ruang rawat jalan, radiologi, serta ruangan satelit laboratorium dan satelit farmasi. Lantai 2 berupa instalasi gawat darurat (IGD), intensive care unit (ICU), dan kamar operasi. Sedangkan lantai 3 khusus untuk ruang bersalin, rawat inap bayi baru lahir, dan neonatal intensive care unit (NICU). Sementara, lantai 4 berupa ruang farmasi, laboratorium gizi, dan rekamedis. Lantai 5 untuk kantor manajemen dan aula.

RSUD juga dilengkapi sarana Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk perawatan intensif anak yang memerlukan pengobatan khusus, guna mencegah terjadinya kegagalan organ vital. Namun, untuk sementara waktu alat tersebut belum memungkinkan dipindah ke gedung baru karena ruangannya belum tersedia. Perawatan pasien dilayani di gedung lama.

“Mungkin setelah Maret baru bisa digeser ke gedung terpadu,” tuturnya kemarin (19/2).

Meski terletak di lantai 2, ruang IGD 24 jam bisa dijangkau langsung dari pintu masuk lantai satu, melalui jalan khusus lintasan mobil ambulance.

“Kami juga menambah beberapa alat kesehatan baru,” lanjut dokter yang tinggal di kawasan lereng Gunung Merapi itu. Tambahan sarana kesehatan hasil pengadaan 2015, diantaranya, Central Sterile Supply Department (CSSD).

Yakni, alat sterilisasi uap suhu rendah dan tinggi. Berfungsi untuk sterilisasi alat-alat medis. Alat tersebut sebenarnya telah lama dimiliki rumah sakit. Tapi, dulu disimpan di ruang yang sempit.

Di gedung baru, alat tersebut ditempatkan di ruangan yang lebih longgar, dengan tambahan alat baru. RSUD “Morangan” juga melengkapi alat analisis gas darah laboratorium dan mesin anestesi, serta meja dan lampu operasi.

Pihak rumah sakit juga menambah 65 bed untuk pasien rawat inap. Jadi, jumlah total bed tersedia sebanyak 265.

Ruang rawat inap di gedung terpadu hanya khusus untuk ibu bersalin, sebanyak 32 bed dan bayi baru lahir 36 bed. Ruang rawat inap lain masih menempati gedung lama yang dibangun lima tahun lalu, yakni ruang Alamanda dan Cempaka. Joko optimistis, fasiltias yang tersedia mampu menampung dan melayani pasien. Dari pengalaman selama ini, jumlah pasien rawat inap rata-rata sebanyak 160 pasien. Sedangkan, pasien rawat jalan tak kurang dari 360 pasien per hari.(yog/ong)