GUNTUR AGA TIRTANA/Radar Jogja

BANTUL – Kesadaran akan potensi pangan lokal terus ditingkatkan oleh Sanggar Anak Alam (Salam). Salah satu kegiatan yang menampilkan potensi ini adalah Pasar Salam, kemarin (19/2). Kegiatan ini menghadirkan beragam macam potensi pangan lokal. Mulai dari bahan mentah hingga pangan olahan jadi di halaman sekolah mereka, Nitiprayan, Bantul.

Pendiri Salam Sri Wahyaningsih menilai, pengetahuan akan pangan lokal perlu ditanamkan sejak dini. Tujuannya agar mengetahui segala potensi pangan di sekelilingnya. Pada kenyataannya, potensi pangan lokal justru melimpah di sekeliling anak.

“Mengenalkan kembali makanan lokal yang sudah kita tinggalkan. Kenyataannya hampir 90 persen panganan yang kita konsumsi justru impor. Padahal Indonesia terkenal akan potensi alam dan kekayaannya. Ini harus terus kita kenalkan, kalau tidak anak justru tidak tahu,” jelasnya.

Wahya, sapaannya, menilai pendidikan merupakan garda terdepan kampanye ini. Melalui metode pendidikan yang diajarkan di kelas dan diterapkan ke anak. Tujuannya tentu saja untuk menanamkan potensi dari pangan sehat berbahan baku lokal.

Salam sendiri menerapkan kurikulum yang berbasis pada pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. Pangan, menurutnya, merupakan unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Terlebih dalam mengangkat potensi lokal sebagai kekuatan utama memajukan pangan nasional.

“Berharap kita lebih menghargai apa yang kita ciptakan dan kita miliki sendiri. Membuktikan bahwa Indonesia kaya dengan potensi alamnya. Percuma kita bilang tanahnya subur, tapi kita sendiri justru tidak menghasilkan. Sehingga kita tanamkan pembudidayaan pangan lokal di lahan sendiri,” jelasnya.

Untuk menanamkan pemikiran ini, orang tua menjadi kunci utama, sehingga tidak hanya mengandalkan guru tapi juga peran aktif orang tua terhadap anaknya. Bahkan untuk kegiatan Pasar Salam #8 seluruh konsep dirancang oleh orang tua dan siswa.

Ia menjelaskan konsep pembelajaran ini bertujuan agar program terealisasi, sSehingga tidak hanya menjadi slogan dan tidak ada langkah nyatanya. Dalam kesempatan ini, Pasar Salam juga melibatkan kelompok Wanita Tani Barokah dari Nitiprayan.

Dalam pasar pangan menghadirkan 26 stan. Di mana seluruhnya menghadirkan bahan baku pangan lokal maupun olahannya. Melibatkan orang tua, kelompok tani dan juga komunitas yang peduli akan pangan lokal.

“Sebagai kampanye agar banyak orang teredukasi makanan sehat. Memang makanannya jadul-jadul, tapi dari sisi kesehatan dan gizi sangat terjamin. Melibatkan seluruh anak Salam sejumlah 150 anak, dari tingkat playgroup hingga bangku SMP,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini setiap siswa juga menampilkan potensi seni. Dirangkum dalam Panggung Ekspresi #8 yang melibatkan seluruh siswa. Uniknya, dalam kesempatan ini, setiap anak tidak harus tampil bagus. Diutamakan berani menampilkan ekpresi diri dalam panggung penampilan.

“Terpenting adalah anak berani tampil ekspresif tanpa rasa malu. Salah itu wajar, tapi paling utama anak memiliki rasa percaya diri. Justru saat anak salah dia jadi belajar. Jika anak tidak berani tampil dan ekspresif, ini juga tidak baik untuk psikologi anak,” ungkapnya. (dwi/laz/ong)