Sadar Bukan Tugas Ringan Emban Kebudayaan

7 Januari 2016 lalu KBPH Prabu Suryodilogo resmi diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Aalam X. Sebulan lebih menjadi Adipati di Kadipaten Pakualaman, PA X tidak banyak bicara keluar. Ia hanya menghadiri beberapa acara yang diadakan koleganya. Permintaan wawancara pun sulit dilakukan. Tapi dalam acara bincang santai dengan PA X yang diadakan di XT Square akhir Januari lalu, PA X mau banyak bercerita.

Salah satunya terkait penunjukan dirinya menjadi putera mahkota dan bergelar KBPH Prabu Suryodilogo hingga akhirnya diangkat menjadi PA X. Semuanya diawali dengan pertanyaan yang diajukan ayahandanya, almarhum PA IX, kepadanya dalam suatu pembicaraan santai. Suatu pertanyaan yang menurut PA X jero banget. “Mau dibawa ke mana Pakualaman ini?”
Dalam pikirannya, Kadipaten Pakualaman akan tetap lestari melalui kebersamaan berbagai pihak, dari yang memiliki jabatan tertinggi sampai abdi dalem. Untuk itu, kebersamaan semua pihak yang menaruh perhatian terhadap Pakualaman dapat menentukan ke arah mana Kadipaten Pakulaman akan berjalan dalam situasi dan kondisi seperti sekrang ini.

Hal itu pula yang dibacakanya dalam Sabda Dalem yang pertama. Dalam Sabda Dalem yang dibacakan dalam bahasa Indonesia itu, PA X menyampaikan visi misinya sebagai pengemban kebudayaan, terutama di Kadipaten Pakualaman.

Dalam sabdanya itu PA X mengakui amanat yang diberikan kepadanya merupakan tugas yang berat, karena akan melanjutkan kewajiban leluhur Mataram sebagai pengembang kebudayaan. Karena itu PA X juga membatasi makna kebudayaan sebagai praktik intelektual yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan dan artistik. “Sehingga dalam pandangan saya, kebudayaan tidak identik dengan manifestasi berkesenian belaka,” ujarnya.

PA X juga menyadari meski makna kebudayaan sudah dibatasi, tugas sebagai pengembang kebudayaan tetap bukan merupakan tugas mudah. Dirinya menyadari akan berada dalam tegangan antara tradisi dan pembaharuan. Karena, lanjutnya, proses kreasi selalu menuntut adanya inovasi, terlebih pada saat perubahan yang terjadi dengan cepat.

Untuk itu, tradisi di Kadipaten Pakualaman sebagai bagian tidak terpisahkan dari Kasultanan Jogja akan dijadikan tolok ukur untuk memahami perkembangan dan perubahan kebudayaan. “Untuk menjalankan tugas itu, saya mengharapkan peran serta warga Jogja dan keluarga besar Pakualaman pada khususnya,” jelasnya.

Pelibatan kerabat dan para sentana juga akan dimulai, dengan meminta kembali ke Kadipaten Pakualaman. “Mereka akan kami mintai pendapat dan pemikiran tentang apa dan bagaimana Pakualaman ke depan,” ujar cucu tertua PA VIII ini.

Salah satu yang akan dikerjakan adalah melakukan revitalisasi perpustakaan Pakualaman. Pemilihan itu sesuai dengan kekhasan Pakualaman selama ini dalam bidang pendidikan. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara juga berasal dari lingkungan Pakualaman.

Menurut PA X, di perpustakaan Pakualaman saat ini tersisa 270 eksemplar buku saja, sisanya ada di Tamansiswa dan Museum Sonobudoyo. “Setelah diamati buku-buku yang tersisa di perpustakaan Pakualaman itu buku-buku yang luar biasa,” ungkapnya.

Pihaknya akan menulis ulang naskah-naskah dalam buku tersebut dan kemudian dibuat versi digital. “Harapnya nanti jadi buku panduan semacam ensiklopedi,” ujar PA X. (pra/laz)

Orang Kedua Yang Turun ke Jolotundo

Selain otomotif, hobi lain PA X semasa mahasiswa adalah pecinta alam. Tidak hanya sekadar naik gunung,
kemampuan PA X dan rekan-rekanya di pecinta alam UPN Veteran Jogja, pernah digunakan untuk menolong orang lain. Yaitu seorang anak kepala desa di Dieng, Bajarnegara, Jawa Tengah, yang tercebur ke kawah Jolotundo tahun 1985 silam.

Saat itu Kawah Jolotundo merupakan kawah yang angker dan belum ada yang berani menuruninya. Informasi itu pun sampai ke Jogja. Sembilan mahasiswa saat itu memutuskan utnuk berangkat ke Dieng untuk mengambil jenzah anak kepala desa itu di dasar kawah sedalam 100 meter. “Saat itu pukul 22.00 WIB diputuskan ke Dieng, karena tidak ada yang berani turun ke kawah,” kenang PA X.

Kepada ayahnya, PA IX, dirinya mengaku pamit akan melakukan latihan ke Dieng. Tanpa menyebut akan mengambil jenazah di Kawah Jolotundo. Saat itu, sebenarnya PA IX sudah curiga karena berangkat malam hari. Orangtuanya baru tahu setelah membaca berita di koran tentang keberhasilan pengangkatan jenazah. Pamit ke orangtua juga sudah menjadi kebiasaanya sejak dulu. “Pesan orangtua, kalau lungo itu pamit,” tuturnya.

Sesampai di Dieng, proses pengangkatan jenazah juga tidak mudah. Apalagi belum ada yang pernah turun ke kawah. Cahyo Alkantana adalah yang pertama ditunjuk untuk turun ke kawah. “Mungkin karena yang paling muda, disuruh-suruh sama yang lain. Saya yang pertama turun, terus Kanjeng Gusti (PA X),” kenang Cahyo yang juga ketua Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI) itu.

Proses evakuasi membutuhkan waktu dua hari dua malam. Selain berhasil melakukan evakuasi, sembilan mahasiwa itu juga mematahkan mitos di masyarakat saat itu terkait Kawah Jolotundo. “Ternyata di dasar kawah itu ada air dan ikan yang hidup,” ujar Cahyo yang sempat mendokumentasikan detik-detik gempa aceh 2004 silam ini. (pra/laz)

Siap Bantu HB X Jalankan Roda Pemerintahan DIJ

Tahapan penetapan wagub DIJ masih menunggu proses di Dewan Provinsi, tapi dipastikan calon wagub pengganti tidak perlu menyampaikan visi misi. Hal itu karena sudah disampaikan pendahulunya, PA IX untuk masa jabatan 2012-2017. Penggantinya hanya meneruskan saja.

Tapi, PA X juga memiliki visi dan misi tersendiri jika kelak sudah dilantik menjadi wagub DIJ. Meski tidak muluk-muluk, PA X mengaku siap membantu Gubernur DIJ HB X dalam menjalankan roda pemerintahan DIJ.

Apa visi misinya? “Ada upaya yang difokuskan pada kegiatan kreatif, yang mungkin nantinya akan dijadikan platform ke depan,” tuturnya.

Menurut PA X, DIJ dengan segala tantangan permasalahan dan keterbatasannya, harus menggerakkan sektor kreatif tersebut. Terlebih dalam hal sumber daya alam relatif tidak punya. Luas wilayah juga kecil, sehingga
untuk investasi juga terbatas lahannya. “Hanya kreativitas itulah yang bisa dijadikan modal DIJ ke depan,” ungkapnya.

Peran pemerintah sendiri, lanjutnya, nantinya akan berkurang dan lebih mengedepankan peran warga. Kegiatan kerakyatan, yang melibatkan peran aktif dan pemberdayaan masyarakat itulah, yang akan dijalankanya. Pemerintah hanya memberikan arahan.

PA X mencontohkan seperti munculnya objek wisata alam baru di DIJ. Mayoritas merupakan hasil dari kreativitas warga setempat. “Pemerintah nantinya hanya memberikan arahan,” terangnya.

Pecinta motor ini juga sempat menyoroti maraknya pembangunan hotel, terutama di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Meski saat liburan banyak hotel yang full booked hingga kesulitan mencari penginapan, saat low season banyak yang menjerit.

Untuk itu, PA X menilai seharusnya bukan penuhnya hotel yang dicari. “Tapi lama tinggal di Jogja, ben kabeh keduman. Iso blonjo, dolan (biar semua kebagian. Bisa belanja, bermain. Red) lebih lama di Jogja,” ungkapnya. (pra/laz)