SLEMAN – Kasus stunting (bayi berat lahir kurang) masih menjadi fokus perhatian Pemkab Sleman. Meski angka di Sleman masih di bawah rata-rata nasional sebesar 34 persen, stunting termasuk kasus serius. Sebab, bayi stunting berisiko mengalami tubuh pendek hingga usia remaja. Pada 2015, angka stunting di Sleman mencapai 12,86 persen. Dialami oleh 7.503 anak dari total 54.859 balita.

Kasi Gizi, Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Sleman Widiharto mengatakan, bayi lahir dengan tubuh pendek disebabkan kurangnya gizi sejak dalam kandungan. Menurutnya, setiap ibu hamil butuh asupan gizi melebihi kebutuhan sehari-hari saat tidak mengandung janin. “Asupan gizi sangat menentukan kesehatan kandungan. Bila sejak dalam kandungan kekurangan gizi, risiko bayi stunting cukup besar,” jelas Widi, kemarin (21/2).

Memang, keterbatasan ekonomi tidak mutlak sebagai penyebab ibu hamil kekurangan asupan gizi. Yang paling krusial adalah ketidaktahuan ibu hamil atas kebutuhan asupan gizi selama mengandung. Itu bisa terjadi akibat ibu terlalu sibuk sehingga kurang memperhatikan kehamilannya.

Kendati demikian, ibu hamil tak perlu khawatir. Bayi terindikasi stunting tetap bisa tumbuh normal. Dengan catatan, selama seribu hari pertama awal masa kehidupan di dalam janin dilakukan optimalisasi asupan gizinya.

Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nuraini menegaskan, perhatian dan pengetahuan ibu tentang asupan gizi saat mengandung sangat penting. Sesibuk apapun seorang ibu hamil tak boleh mengesampingkan persoalan itu. Apalagi setelah melahirkan. Air susu ibu (ASI) ekslusif menjadi asupan gizi utama bayi untuk mencegah stunting. “Jangan sampai karena terlalu sibuk, sang ibu tidak mau memberi ASI ekslusif kepada bayinya,” ingatnya.

Untuk mendapatkan gizi ideal, lanjut Linda, begitu sapaan akrabnya, bayi harus diberi ASI ekslusif selama enam bulan pertama. Selanjutnya, bisa diberi makanan pendamping ASI.

Lebih lanjut, Linda mengatakan, penanganan stunting merupakan proses yang panjang. Karena itu, penting bagi setiap ibu mempersiapkan proses kehamilan mereka. “Pastikan kondisi janin sehat sejak awal kehamilan,” tuturnya.

Berbagai upaya dilakukan dinas untuk menekan angka stunting. Penyuluhan di puskesmas menjadi agenda utama yang menyasar ibu-ibu hamil. Selain itu, petugas puskesmas dilatih untuk mengampanyekan pentingnya pemberian ASI ekslusif. Juga membentuk konselor inisiatif menyusui dini (IMD).

Lebih dari itu, guna mendukung program IMD, Pemkab Sleman menetapkan Peraturan Bupati Nomor 38 Tahun 2015 tentang Pemberian ASI Ekslusif dan IMD. Regulasi tersebut mengharuskan semua instansi di wilayah Sleman, baik swasta maupun pemerintah, wajib mendukung pemberian ASI ekslusif dan IMD bagi para ibu. Caranya, dengan menyediakan ruang laktasi di tempat umum. (bhn/yog/ila/ong)